ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Upaya menjaga kelestarian Gunung Slamet tidak hanya dilakukan melalui pendekatan lingkungan, tetapi juga lewat budaya dan tradisi masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Ngramat Sang Hyang Wudel 2026 – Wisya Mitra “Bersahabat dengan Alam” yang digelar di lereng selatan Gunung Slamet, Baturraden, Kabupaten Banyumas.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat adat, pegiat lingkungan, dan komunitas budaya dari berbagai daerah untuk kembali mengingat hubungan manusia dengan alam. Tradisi “ngerumat” atau merawat Gunung Slamet dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Koordinator Penyelenggara Ngramat Sang Hyang Wudel 2026, Bambang Barata Aji mengatakan, istilah “Ngramat” berangkat dari pemaknaan kata “ngerumat” dan “ngerawat”. Gunung Slamet dipandang bukan sekadar bentang alam, tetapi sumber kehidupan yang memiliki nilai penting bagi masyarakat di sekitarnya.
“Gunung Slamet menjadi sumber mata air, memberikan iklim yang baik, dan menopang kehidupan. Ngeramat itu artinya ngerumat dan ngerawat, menuju sesuatu yang keramat, sesuatu yang mulia dan tidak boleh kita main-mainkan,” kata Bambang, Minggu (13/9/2026).
Menurutnya, nilai budaya tersebut sekaligus menjadi pesan penting mengenai konservasi Gunung Slamet. Masyarakat diajak tidak hanya memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga menjaga ekosistem agar tetap mampu menopang kehidupan dalam jangka panjang.
Baca juga: ABK KMN Barokah Anak Mas 03 Meninggal di Laut
Terlebih, berbagai persoalan lingkungan seperti kekeringan panjang menjadi pengingat bahwa keseimbangan alam perlu mendapatkan perhatian serius. Karena itu, masyarakat dinilai perlu kembali menghidupkan “ilmu titen”, yakni kebiasaan membaca dan memperhatikan perubahan serta gejala alam di sekitarnya.
“Kita perlu mengingatkan diri sendiri untuk membaca gejala alam dan menjaga keseimbangan ekosistem. Ini adalah ekspresi syukur dan terima kasih melalui pendekatan budaya,” ujarnya.
Padukan Budaya dan Pelestarian Lingkungan
Kegiatan tersebut diikuti masyarakat adat dan pegiat lingkungan dari lima kabupaten yang berada di sekitar Gunung Slamet, yakni Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Selain itu, hadir pula perwakilan masyarakat adat dari Jawa Timur serta komunitas masyarakat adat dari kawasan Gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat.
Menariknya, kegiatan Ngramat Sang Hyang Wudel tidak hanya berisi pertunjukan budaya. Sejumlah aktivitas yang berkaitan langsung dengan pelestarian lingkungan juga dilakukan sebagai bagian dari rangkaian acara. Salah satunya adalah Tirtakrama, berupa pencampuran air yang berasal dari berbagai sumber. Ritual simbolis tersebut menggambarkan penyatuan aliran air sekaligus mempererat persaudaraan antarkomunitas.
Baca juga: Curanmor di Purwokerto Selatan Terungkap Kurang dari 1 Jam
“Ketika kita satukan aliran-aliran air itu, mudah-mudahan persaudaraan kita juga mengalir,” kata Bambang.
Pesan konservasi kemudian diperkuat melalui pelepasan burung, penanaman pohon, serta penebaran ikan lokal di Kali Pelus. Ketiga kegiatan tersebut menjadi simbol kepedulian terhadap tiga unsur penting dalam kehidupan, yakni udara, tanah, dan air.
Penebaran ikan lokal juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan pentingnya menjaga keberadaan spesies ikan yang mulai sulit dikembangkan. Menurut Bambang, upaya tersebut sekaligus dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk ikut berkreasi dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
“Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk berkreasi dan ikut menjaga lingkungan. Salah satunya melalui upaya membudidayakan ikan lokal yang selama ini sulit dikembangkan,” ujarnya.
Ngramat Sang Hyang Wudel juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa dan negara. Kegiatan tersebut dilakukan secara spontan dan gotong royong dengan melibatkan berbagai komunitas.
Baca juga: Kebakaran Lahan Perhutani di Buayan Kebumen Meluas hingga 2 Hektare
“Kami masyarakat tetap berupaya dan berdoa supaya negara ini aman, tenteram, damai, dan sejahtera. Kalau negara gagal, rakyat kecil yang pertama kali merasakan dampaknya,” kata Bambang.
Ia juga mengapresiasi kehadiran masyarakat adat dari berbagai daerah yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Dukungan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) turut diberikan dalam pelaksanaan acara.
Sementara itu, pesan tentang pentingnya menjaga gunung juga disampaikan tokoh masyarakat adat Sunda dari kawasan Gunung Tangkuban Perahu, Akiat Ginanjar Akil atau yang akrab disapa Kang Gin Gin. Dalam kesempatan tersebut, Kang Gin Gin berbagi pengalaman mengenai kegiatan “Ngertakeun Bumi Lamba” yang selama ini dilakukan di Gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat.
Menurut dia, gerakan tersebut mulai berkembang sekitar tahun 2000-an, ketika sejumlah kalangan, khususnya generasi muda, mulai kembali tertarik mempelajari nilai-nilai budaya sekaligus mendatangi berbagai tempat yang dianggap memiliki nilai kesakralan.
Dalam perjalanan tersebut, ia mengaku pernah mendapatkan pesan dari orang tuanya mengenai besarnya amanah manusia dalam menjaga gunung. Pesan itu kemudian membuatnya memahami bahwa tanggung jawab menjaga gunung bukan hanya ditujukan kepada gunung-gunung besar atau yang dikenal luas masyarakat. Setiap gunung memiliki keterkaitan dengan kehidupan manusia dan karena itu perlu dihormati serta dijaga keberlangsungannya.
Baca juga: 5 Cafe Kekinian yang Ramai di Purwokerto, Cocok untuk Nongkrong dan Ngopi
Ia juga mengenalkan konsep “tali paranti”, yakni berbagai sarana yang digunakan untuk menjaga gunung sekaligus menghormati warisan leluhur. “Tali paranti” tidak hanya berbentuk perlengkapan fisik atau peranti keras yang memiliki nilai artistik, tetapi juga mencakup peranti lunak berupa energi, kode, serta nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.
Bagi Kang Gin Gin, merawat gunung bukan kegiatan sesaat. Upaya tersebut harus dilakukan secara konsisten dan tidak boleh berhenti hanya karena jumlah orang yang terlibat dalam sebuah kegiatan tidak banyak. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlangsung setiap tahun. Di Tangkuban Perahu, kegiatan biasanya dilaksanakan pada 21 Juni sebagai momentum untuk kembali mengingat hubungan manusia dengan alam serta keberlangsungan kehidupan.
Pertemuan masyarakat adat dan komunitas lingkungan melalui Ngramat Sang Hyang Wudel 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan budaya semata. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa Gunung Slamet merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat di lima kabupaten. Merawat hutan, menjaga sumber air, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan menghormati alam menjadi tanggung jawab bersama.
Dari lereng selatan Gunung Slamet, pesan kembali digaungkan untuk menjaga alam bukan hanya tentang mempertahankan lingkungan hari ini, tetapi juga memastikan generasi mendatang masih memiliki sumber kehidupan yang sama. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.