ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) mulai mengubah basis penerima bantuan sosial di Indonesia. Kementerian Sosial (Kemensos) mencatat sekitar 4,3 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) baru kini masuk dalam daftar penerima bansos setelah pemerintah menggunakan data berbasis desil untuk menentukan sasaran program perlindungan sosial.
Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Kemensos, Andy Kurniawan mengatakan, penggunaan DTSEN menjadi bagian penting dalam memperbaiki ketepatan sasaran bantuan sosial. Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat terus berubah sehingga data penerima bansos juga tidak bisa bersifat statis.
Perubahan kondisi tersebut, kata Andy, membuat pemerintah perlu melakukan pemutakhiran data secara berkala. Termasuk ketika ditemukan ketidaksesuaian antara data dengan kondisi masyarakat di lapangan.
“Adapun ada hal-hal yang kiranya error di lapangan, semuanya kita respons. Semua masukan dari media kita respons dan langsung kita tindak lagi sebagai bagian dari pemutakhiran,” ujar Andy.
Salah satu dampak penggunaan DTSEN terlihat dari bertambahnya masyarakat yang sebelumnya belum tercatat sebagai penerima bantuan sosial. Dengan sistem desil, pemerintah memiliki dasar untuk melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat secara lebih terukur.
Baca juga: Skandal Pungutan Liar Dapur Gizi, BGN Beri Lampu Hijau Mitra Ganti Yayasan 'Numpang Nama'
“Bagaimana dulu yang banyak tidak bisa mendapatkan bansos, sekarang ada 4,3 juta KPM baru ini mendapatkan bansos. Karena kita sudah menggunakan desil itu,” katanya.
Agen Perlinsos Bantu Warga yang Kesulitan Akses Digital
Meski digitalisasi menjadi arah baru dalam penyaluran bansos, pemerintah menyadari masih ada masyarakat yang belum memiliki perangkat atau kemampuan untuk melakukan pendaftaran secara mandiri. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemensos mendorong Gerakan Nasional Peduli Tetangga melalui Agen Perlinsos. Mereka nantinya dapat membantu warga yang membutuhkan untuk mengakses sistem pendaftaran bantuan sosial.
“Agen itu siapa? Orang lain yang bisa membantu orang lain untuk masuk dan mendaftarkan bantuan sosial,” jelas Andy.
Agen Perlinsos dapat berasal dari berbagai unsur masyarakat. Mulai dari RT, RW, pendamping sosial, kader PKK, kelompok pengajian, kelompok arisan, wartawan, hingga Babinsa. Dengan demikian, digitalisasi bansos tidak hanya mengandalkan kemampuan masyarakat untuk mengakses teknologi secara mandiri.
Baca juga: Riset Roket hingga Drone Dunia Berkumpul di Yogyakarta, Ada Kompetisi Mahasiswa dari 26 Negara
“Siapapun boleh jadi agen Perlinsos,” tegas Andy. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.