ORBIT-NEWS.COM, BATANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) guna menarik investasi bernilai tinggi dan memperkuat daya saing kawasan industri tersebut.
Langkah ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman dan Non-Disclosure Agreement (NDA) antara PT Jateng Petro Energi (JPEN) dan pengelola KITB pada Jumat, (27/2/2026), yang disaksikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan, KITB sebagai Proyek Strategis Nasional harus didukung infrastruktur energi yang andal. Ia meminta seluruh pihak menyusun langkah percepatan agar pasokan listrik berbasis energi terbarukan dapat segera terealisasi.
“Jangan sampai kawasan industri ini mengalami gangguan listrik. KITB harus menjadi percontohan nasional dengan dukungan energi baru terbarukan yang andal,” tegasnya.
Baca juga: Perbaikan Jalan Semarang–Godong Dikebut, Target Fungsional Sebelum Arus Mudik
Menurut Luthfi, ketersediaan energi hijau kini menjadi salah satu pertimbangan utama investor global. Setiap promosi investasi yang dilakukan Pemprov Jateng, isu energi ramah lingkungan selalu menjadi pertanyaan utama calon investor.
Ia menambahkan, Jawa Tengah memiliki potensi sumber energi terbarukan yang besar, termasuk pemanfaatan waduk dan danau untuk pembangkit energi bersih. Potensi tersebut dinilai mampu meningkatkan minat investor untuk menanamkan modal di provinsi ini.
Pengembangan Kelistrikan
Direktur Utama PT JPEN, Dwi Budi Sulistiyana, menjelaskan bahwa kerja sama ini mencakup pengembangan sistem kelistrikan berkeandalan tinggi atau zero interruption power yang mampu memasok listrik tanpa jeda selama 24 jam.
“Targetnya KITB dapat mencapai standar tier 4 sehingga menarik investor premium seperti industri semikonduktor, petrokimia, hingga data center,” ujarnya.
Baca juga: D’Modifest 2026 Semarang Menggelegar, Panggung Modest Fashion Jateng Siap Tembus Pasar Dunia
JPEN, lanjut Dwi, menyiapkan investasi produksi energi sebesar 180 megawatt untuk tahap awal. Saat ini kebutuhan listrik KITB sekitar 60 megawatt dan diproyeksikan melonjak hingga 450 megawatt dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami ingin mendorong KITB menjadi kawasan industri berbasis energi baru terbarukan secara penuh dengan sumber energi yang terintegrasi,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama KITB Anak Agung Putu Ngurah Wirawan menyambut positif kemitraan tersebut. Menurutnya, penguatan sektor energi menjadi bagian penting dari strategi bisnis jangka panjang kawasan industri. Ia menilai konsep keandalan listrik yang ditawarkan JPEN sangat relevan dengan rencana masuknya investasi pusat data yang membutuhkan suplai listrik stabil.
“Kerja sama ini menjadi langkah awal untuk memperluas investasi sekaligus memperkuat ekosistem industri di KITB,” ujar Ngurah Wirawan.