ORBIT-NEWS.COM - Pernah tidak kalian berpikir, mengapa saat kita mencapai kesuksesan dalam bentuk apa pun, tercapai cita-cita, mendapatkan sesuatu yang lama kita inginkan dan usahakan danl lain-lain, kita diminta untuk berterima kasih sambil memuji pihak lain? Aneh tidak perintah ini? Kita sudah berjuang mati-matian, jungkir balik, tiba-tiba pada saat kita mencapai keberhasilan, kita disuruh memuji pihak lain.
Nah, perintah syukur itu kurang lebih seperti itu. Dalam setiap keberuntungan yang kita dapatkan, kita diperintahkan untuk berterima kasih kepada Tuhan. Redaksi terima kasihnya pun sudah diformulasikan: الحمد لله (segala pujian hanya kepada Allah). Terasa aneh, kan? Kita berjuang untuk mendapatkan sesuatu, berhasil, lalu diminta berterima kasih kepada Tuhan, redaksi kalimatnya pun sudah ditetapkan, yaitu pujian kepada Tuhan. Sekalipun boleh saja kita menggunakan redaksi “terima kasih kepada-Mu, ya Allah” (أشكرك يا الله), tetapi ungkapan resmi bersyukur adalah bagian pertama Surah Al-Fatihah: الحمد لله رب العالمين (segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam).
Namun, justru di sinilah letak rahasianya. Yuk kita renungkan! Berbangga pada diri sendiri tidak apa-apa. Tidak dilarang. Memuji diri sendiri juga tidak apa-apa. Tidak dilarang juga. Yang dilarang adalah sombong. Allah menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang berhak menyandang sifat kesombongan.
Kesuksesan dapat membuat seseorang menjadi arogan, yang ini akan membawa kepada kehancuran diri (self-destruction). Ketika seseorang meraih kesuksesan, dia mungkin akan merasa superior, tak tersentuh. Inilah yang disebut overconfidence bias. Overconfidence bias bisa menjebak orang pada situasi yang membahayakan: mengabaikan masukan; tidak menghargai orang lain; berhenti belajar; dan menjadi sembrono.
Orang yang mengalami kesuksesan cenderung melebih-lebihkan (overestimate) kekuatan dirinya dan meremehkan (underestimate) faktor-faktor eksternal, seperti keberuntungan, timing, dan dukungan pihak lain. Distorsi kognitif ini menciptakan ilusi kekuasaan tanpa batas. Seseorang tidak lagi melihat kesuksesan sebagai sesuatu yang situasional, tetapi semata-mata sebagai bukti superioritasnya. Pada akhirnya, superiority complex ini akan menghancurkannya.
Baca juga: Ramadan Tidak Serempak: Bagaimana Mengedukasi Anak?
Padahal, kesuksesan dan kegagalan adalah dua sisi dari satu koin. Di awal perjalanan seseorang, kegagalan mungkin akan memotivasi pertumbuhan dan pembelajaran. Namun, begitu kesuksesan itu menjadi identitas dirinya, kegagalan akan mengancam stabilitas egonya. Untuk menghindari kehancuran ego ini, dia akan denial terhadap kesalahan-kesalahannya dan selalu menyalahkan orang lain. Penolakan atas keterbatasan diri ini membuat seseorang kehilangan kemampuan beradaptasi, sesuatu yang esensial untuk tetap survive dan bergerak maju dalam jangka panjang.
Syukur (segala puji bagi Allah) atas sebuah kesuksesan adalah esensial untuk menjaga hati, menstabilkan karakter, dan menjaga keberkahan hidup. Syukur menjaga seseorang dari ilusi total self-sufficiency. Ia mengingatkan seseorang bahwa usaha itu sendiri tidak pernah menjadi satu-satunya jaminan keberhasilan.
Success is a test, not just a reward. Banyak orang yang mampu bertahan dalam kemalangan, tetapi tidak banyak orang yang tidak mabuk kesuksesan. Nabi Muhammad adalah teladan sempurna dalam memperlakukan kesuksesan yang didapatkannya. Ketika beliau berhasil menaklukkan Mekkah, kemenangan terbesarnya, beliau memasuki kota itu dengan kerendahan hati, bukan dengan sikap menepuk dada dengan puja-puji pada dirinya.
Sikap ini tergambar jelas dalam Surah An-Nashr. Ketika Nabi memperoleh kemenangan, beliau diperintahkan untuk bertasbih dengan memuji Allah. Nabi diingatkan untuk tidak mabuk kemenangan. Karena, success without gratitude can corrupt the heart.
Baca juga: Jurnalisme di Persimpangan AI : Antara Kecepatan dan Kebenaran
Penulis : Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, BMBPSDM Kementerian Agama, Ustadz Ahmad Z El-Hamdi.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.