Kemenkes Perluas Skrining TB dengan Rontgen AI

Pesantren dan Permukiman Padat Jadi Sasaran Utama
Kesehatan
By Ariyani  —  On Aug 16, 2026
Caption Foto : Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Foto ; Dok. Kemenkes).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperluas strategi menemukan kasus tuberkulosis (TB) secara dini dengan mendatangi langsung kelompok masyarakat yang dinilai memiliki risiko penularan tinggi. Skrining dilakukan menggunakan rontgen dada yang didukung teknologi Artificial Intelligence (AI).

Pondok pesantren dan kawasan permukiman padat menjadi sasaran utama program tersebut. Langkah ini dilakukan untuk menemukan penderita TB yang selama ini belum terdiagnosis sehingga dapat segera memperoleh pengobatan dan memutus rantai penularan.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, keterlambatan menemukan penderita menjadi salah satu persoalan terbesar dalam penanganan TB di Indonesia. Padahal, obat untuk penyakit tersebut telah tersedia dan efektif menyembuhkan pasien yang menjalani pengobatan sesuai ketentuan.

“Penyakit ini ribuan tahun sudah ada. Obatnya sudah ada dan manjur. Kalau minum obat pasti sembuh. Masalahnya adalah enggak ketahuan kalau dia sakit TB, karena skrining-nya terlambat atau tidak dilakukan,” ujar Budi.

Menurut dia, TB masih menjadi penyakit menular dengan angka kematian tertinggi di Indonesia. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 120.000 orang meninggal akibat penyakit tersebut. Karena itu, Kemenkes mendorong pola penemuan kasus yang lebih aktif. Masyarakat tidak lagi harus menunggu datang ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan, tetapi layanan skrining akan semakin didekatkan ke lingkungan tempat mereka tinggal dan beraktivitas.

Baca juga: Jangan Hanya Jalan Kaki, Latihan Otot Penting Saat Memasuki Usia Tua

Rontgen TB Kini Bisa Dibawa ke Lapangan

Kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor yang memungkinkan strategi tersebut diterapkan dalam skala lebih luas. Perangkat rontgen yang sebelumnya identik dengan peralatan berukuran besar di rumah sakit kini tersedia dalam bentuk lebih ringkas dan portabel.

Bahkan, menurut Budi, sejumlah perangkat dapat dibawa ke lokasi menggunakan kendaraan roda dua. Dengan demikian, petugas kesehatan dapat melakukan pemeriksaan langsung di tengah masyarakat, termasuk di wilayah yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan.

“Sekarang teknologi baru, alatnya kecil bisa digendong, dibawa pakai motor. Dengan demikian, kita bisa melakukan skrining ke masyarakat, tidak harus menunggu mereka datang ke rumah sakit,” katanya.

Proses pemeriksaan juga diperkuat dengan teknologi AI. Sistem tersebut dapat membantu membaca hasil rontgen dan mengidentifikasi indikasi yang mengarah pada TB sehingga petugas dapat melakukan penanganan lebih cepat terhadap orang yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Baca juga: Kebiasaan Gigit Kuku, Sepele tapi Bisa Berdampak pada Kesehatan

Untuk memperluas jangkauan layanan, Kemenkes menyiapkan sekitar 10.000 unit perangkat rontgen yang akan didistribusikan secara bertahap ke Puskesmas di berbagai daerah. Pengadaan peralatan tersebut diharapkan membuat kemampuan deteksi TB semakin dekat dengan masyarakat. Pemeriksaan juga akan diintegrasikan dengan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Pesantren Dinilai Memiliki Risiko Penularan Lebih Tinggi

Pondok pesantren menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus dalam perluasan skrining TB. Kepadatan hunian di sejumlah pesantren membuat interaksi antarsantri berlangsung sangat intensif, terutama di kamar tidur dan ruang aktivitas bersama.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penularan apabila terdapat seseorang yang menderita TB tetapi belum diketahui dan belum mendapatkan pengobatan.

Gambaran mengenai tingginya risiko di lingkungan padat juga terlihat dari hasil skrining di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. Budi menyebut, skrining TB secara umum rata-rata menemukan sekitar 0,3 persen kasus.

Baca juga: Kalori Nasi Goreng Berapa? Ini Perkiraan Tiap Varian dan Tips Membuatnya Lebih Sehat

Namun, angka tersebut melonjak menjadi sekitar 3 persen ketika skrining dilakukan di Nusakambangan. Artinya, temuan kasus di lingkungan tersebut sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata skrining.

“Kemarin saya jalan-jalan ke Nusakambangan, skrining TB pakai rontgen, ketemu 3 persen. Saya langsung ingat pesantren-pesantren, karena ada kamar yang isinya banyak dan sangat padat. Jadi saya pikir, ini harus di-skrining di pesantren,” ujar Budi.

Atas dasar itu, Kemenkes menggandeng Kementerian Agama untuk memperluas pemeriksaan TB ke pondok pesantren di berbagai daerah.

“Kita akan masuk ke seluruh pondok pesantren di Indonesia agar bisa di-skrining TB sehingga semua santrinya sehat,” tegasnya. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: