ORBIT-NEWS.COM, WONOSOBO – Harga daging sapi di Kabupaten Wonosobo terus mengalami kenaikan dan kini mencapai sekitar Rp150.000 per kilogram. Lonjakan harga yang berlangsung sejak usai Hari Raya Idulfitri tersebut menjadi perhatian serius Pemkab Wonosobo karena berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat apabila pasokan tidak segera diperkuat.
Temuan tersebut terungkap dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) terpadu yang dilakukan Pemkab Wonosobo terhadap harga bahan pokok penting (Bapokting), distribusi pupuk bersubsidi, serta penyaluran LPG 3 kilogram di sejumlah titik strategis.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Wonosobo, Lintang Esti Pramanasari mengatakan, kenaikan harga daging sapi dipengaruhi terbatasnya jumlah sapi siap potong di tingkat peternak. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap berkurangnya pasokan daging di pasar sehingga harga terus bergerak naik.
"Monitoring dan Evaluasi pada sektor Bahan Pokok Penting (Bapokting), penyaluran pupuk bersubsidi melalui Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3), serta pengendalian harga dan pasokan tabung gas LPG 3 kilogram Tahun Anggaran 2026 dilaksanakan untuk menjamin stabilitas pasokan, keterjangkauan harga, dan ketepatan sasaran penyaluran guna mendukung ketahanan pangan serta menjaga daya beli masyarakat," jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan di Pasar Kertek dan Pasar Induk Wonosobo, harga daging sapi menjadi komoditas yang mengalami kenaikan paling menonjol. Kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini agar tidak memicu lonjakan harga yang lebih tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Baca juga: Pelemparan Kereta Api di Daop 5, KAI Soroti Aksi Berbahaya yang Masih Terjadi
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Wonosobo akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk merumuskan langkah strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan, mengantisipasi potensi kelangkaan sapi potong, sekaligus menekan dampak kenaikan harga terhadap masyarakat.
Komoditas Bahan Pokok Mengalami Kenaikan Harga
Selain daging sapi, hasil Monev juga menunjukkan sebagian besar komoditas bahan pokok mengalami kenaikan harga dibandingkan pekan sebelumnya. Peningkatan tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat setelah dimulainya tahun ajaran baru yang mendorong permintaan berbagai kebutuhan rumah tangga.
Meski demikian, pemerintah memastikan stok bahan pokok secara umum masih mencukupi dan kenaikan harga masih berada dalam kategori wajar. Pemantauan akan terus dilakukan secara berkala untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah gejolak harga.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkab Wonosobo membagi pengawasan ke dalam tiga tim. Tim pertama memantau harga dan ketersediaan bahan pokok di Pasar Kertek serta Pasar Induk Wonosobo. Tim kedua melakukan evaluasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) di gudang pupuk Selokromo, distributor, hingga kios resmi.
Baca juga: Meresahkan Warga, Polisi Evakuasi ODGJ di Buayan ke Rumah Sakit
Sementara itu, tim ketiga mengawasi distribusi LPG 3 kilogram di SPBE Sawangan dan sejumlah agen resmi. Pemeriksaan difokuskan pada ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta kepatuhan terhadap harga eceran agar subsidi energi tetap diterima masyarakat yang berhak.
Pada sektor pupuk bersubsidi, pengawasan dilakukan secara menyeluruh mulai dari legalitas penyalur, administrasi distribusi, kecukupan stok, kesesuaian alokasi, hingga kepatuhan terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET). Pemerintah juga memantau transparansi pelaporan distribusi serta mengidentifikasi potensi penyimpangan yang dapat menghambat penyaluran kepada petani.
Hasil Monitoring dan Evaluasi terpadu ini akan menjadi dasar penyusunan kebijakan lanjutan untuk menjaga stabilitas harga pangan, memperlancar distribusi pupuk bersubsidi, menjamin ketersediaan LPG 3 kilogram, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi daerah. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.