ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Bahaya pinjaman online (pinjol) ilegal tak hanya berdampak pada kondisi keuangan seseorang. Tekanan akibat tagihan, bunga tinggi, hingga cara penagihan yang intimidatif dapat merembet ke keluarga dan lingkungan sosial korban. Persoalan tersebut dinilai perlu disampaikan kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih dekat dan mudah dipahami. Salah satunya melalui film.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria menilai karya audiovisual memiliki potensi besar menjadi media literasi digital untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko pinjol ilegal maupun judi online (judol).
Menurut Nezar, film mampu menggambarkan persoalan secara lebih nyata karena penonton dapat melihat langsung bagaimana seseorang terjerat masalah, menghadapi tekanan, hingga merasakan dampaknya bersama orang-orang terdekat.
“Masyarakat bisa melihat bagaimana seseorang masuk ke dalam masalah, bagaimana tekanan berkembang, dan bagaimana dampaknya ikut dirasakan keluarga serta orang-orang di sekitarnya,” tuturnya.
Nezar pun mengapresiasi film Menang untuk Kalah yang mengangkat persoalan pinjol ilegal melalui kisah kehidupan sebuah keluarga. Ia menilai penggambaran dampak terhadap keluarga menjadi bagian penting karena pelaku pinjol ilegal dapat memanfaatkan data pribadi dan profiling untuk memberikan tekanan kepada korban. Akibatnya, persoalan tidak berhenti pada orang yang mengajukan pinjaman. Keluarga, teman, bahkan lingkungan sosial korban bisa ikut terdampak.
Baca juga: Kemenag Buka Bantuan Pesantren 2026 hingga Rp100 Juta
“Para korban pinjol ilegal harus menerima tekanan psikologis yang besar dan tagihan dengan bunga tinggi, bahkan sampai dipermalukan di lingkungannya,” kata Nezar.
Film juga dinilai dapat membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap korban pinjol ilegal. Tidak semua orang yang terjerat pinjaman ilegal melakukannya karena ingin memenuhi kebutuhan konsumtif.
Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa mengambil pinjaman karena menghadapi kebutuhan mendesak atau tekanan ekonomi yang membuat pilihan menjadi semakin terbatas. Karena itu, Nezar melihat film seperti Menang untuk Kalah dapat dikembangkan lebih jauh sebagai bagian dari gerakan literasi digital di tengah masyarakat.
Menurutnya, pemutaran film bisa dipadukan dengan diskusi di kampus, komunitas, maupun ruang publik. Dengan cara tersebut, pesan yang disampaikan melalui cerita dapat dilanjutkan dengan edukasi mengenai keamanan digital, perlindungan data pribadi, serta literasi keuangan.
Kolaborasi Lintas Sektor
Baca juga: Lansia di Pekalongan Tak Punya HP tapi Bansos Terhenti karena Indikasi Judol, Ini Kata Kemensos
Nezar juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, industri kreatif, media, komunitas, dan berbagai pelaku ekosistem digital untuk memperluas edukasi mengenai bahaya pinjol ilegal.
Kolaborasi tersebut diharapkan membuat informasi mengenai risiko pinjaman online ilegal tidak hanya berhenti sebagai kampanye, tetapi dapat menjangkau masyarakat melalui berbagai bentuk komunikasi yang lebih menarik dan relevan.
Sementara itu, film Menang untuk Kalah dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 14 November 2026. Film tersebut menghadirkan Surya Saputra dan Lulu Tobing sebagai pemeran utama. Produksinya turut melibatkan Jujur Prananto, penulis naskah film Ada Apa Dengan Cinta, serta Hasto Broto sebagai sutradara.
Dengan mengangkat persoalan pinjol ilegal melalui drama keluarga, Menang untuk Kalah diharapkan tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami risiko pinjaman ilegal dan pentingnya menjaga keamanan finansial di era digital. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.