Belajar dari Perajin Desa, Mahasiswa KKN UIN Saizu Dalami Anyaman Pithi yang Jadi Kemasan Ikonik Getuk Goreng Sokaraja

Banyumas Raya Pendidikan
By Vivin  —  On Aug 07, 2026
Caption Foto : Mahasiswa KKN UIN Saizu Purwokerto Belajar Cara Membuat Pithi ( Foto : Dok. UIN Saizu )

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Di tengah gempuran kemasan modern berbahan plastik, selembar anyaman bambu sederhana masih bertahan menjaga cita rasa tradisi. Bagi masyarakat Dusun Bilungan, Desa Kecitran, Kecamatan Purwareja Klampok, anyaman bernama pithi bukan sekadar wadah makanan, melainkan warisan budaya yang terus menghidupi banyak keluarga.

Kearifan lokal inilah yang dipelajari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan ke-58 Kelompok 76 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto. Mereka turun langsung ke rumah-rumah perajin untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan pithi, anyaman bambu yang selama bertahun-tahun menjadi kemasan khas Getuk Goreng Sokaraja.

Bukan hanya mengamati, para mahasiswa juga ikut merasakan bagaimana menyusun bilah-bilah bambu hingga membentuk anyaman yang rapi dan siap digunakan. Di balik bentuknya yang sederhana, mereka menemukan keterampilan yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Meski kemasan plastik semakin mudah ditemukan, pithi masih menjadi pilihan banyak produsen Getuk Goreng Sokaraja. Selain memberi kesan tradisional yang khas, anyaman bambu dinilai lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan alami yang mudah terurai.

Keberadaan pithi juga menjadi identitas yang melekat pada salah satu kuliner legendaris Banyumas tersebut. Tak heran jika permintaan terhadap anyaman bambu dari Desa Kecitran tetap terjaga hingga kini.

Baca juga: Bukan Sekedar Kenyang, Ini Makanan yang Bisa Mendukung Kecerdasan Anak

Bagi masyarakat setempat, kerajinan ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang terus dipertahankan lintas generasi.

Belajar UMKM Berbasis Kearifan Lokal

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UIN Saizu tidak hanya belajar menganyam, tetapi juga memahami bagaimana sebuah usaha mikro berbasis budaya mampu bertahan di tengah perubahan zaman.

Mereka melihat secara langsung bahwa kekuatan sebuah UMKM tidak hanya terletak pada produknya, tetapi juga pada nilai sejarah, identitas budaya, dan konsistensi kualitas yang dijaga oleh para perajinnya.

Koordinator Desa KKN UIN Saizu Kelompok 76, Bayu Hizbulloh, mengatakan pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa mengenai pentingnya mengangkat potensi desa melalui promosi yang lebih luas.

Baca juga: Pelemparan Kereta Api di Daop 5, KAI Soroti Aksi Berbahaya yang Masih Terjadi

Menurutnya, kerajinan anyaman pithi memiliki peluang besar untuk semakin dikenal masyarakat apabila didukung publikasi digital dan strategi pemasaran yang tepat.

"Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen KKN UIN Saizu dalam mendukung pemberdayaan masyarakat desa melalui penguatan UMKM berbasis potensi lokal," ujarnya.

Mahasiswa berharap anyaman pithi tidak hanya dikenal sebagai pelengkap kemasan Getuk Goreng Sokaraja, tetapi juga sebagai produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi simbol pelestarian budaya lokal.

Di balik setiap lembar anyaman bambu yang dibuat dengan tangan-tangan terampil warga Desa Kecitran, tersimpan kisah tentang kerja keras, ketekunan, dan upaya menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Dari desa kecil di Banjarnegara, pithi terus membuktikan bahwa warisan budaya dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus kebanggaan masyarakat. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: