ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Kesemutan pada tangan sering kali membuat seseorang khawatir, terlebih jika dikaitkan dengan risiko stroke. Tidak sedikit yang menganggap setiap sensasi kebas atau kesemutan merupakan pertanda awal serangan stroke. Namun, benarkah anggapan tersebut?
Dokter menjelaskan bahwa kesemutan memang dapat menjadi salah satu gejala stroke, tetapi tidak selalu demikian. Pada sebagian besar kasus, kesemutan lebih sering disebabkan oleh kondisi yang relatif ringan, seperti posisi tubuh yang menekan saraf, kelelahan, kekurangan vitamin B, gangguan saraf, hingga penyakit seperti diabetes.
Stroke sendiri terjadi ketika aliran darah menuju otak terganggu akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan secepat mungkin untuk mengurangi risiko kerusakan otak permanen.
Kesemutan yang berkaitan dengan stroke umumnya tidak muncul sebagai satu-satunya gejala. Biasanya kondisi tersebut disertai tanda lain yang muncul secara tiba-tiba, seperti kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, wajah tampak menurun sebelah, kesulitan berbicara, bicara pelo, gangguan penglihatan, sulit berjalan, kehilangan keseimbangan, hingga sakit kepala hebat tanpa penyebab yang jelas.
Karena itu, jika seseorang hanya mengalami kesemutan ringan yang hilang setelah mengubah posisi tubuh atau menggerakkan tangan, kemungkinan besar kondisi tersebut bukan disebabkan oleh stroke. Namun, apabila kesemutan muncul secara mendadak disertai kelemahan pada lengan atau kaki, wajah mencong, atau sulit berbicara, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan.
Baca juga: Jangan Hanya Jalan Kaki, Latihan Otot Penting Saat Memasuki Usia Tua
Masyarakat juga dianjurkan mengenali metode FAST (Face. Arm, Speech, and Time) untuk mendeteksi gejala stroke. Face berarti memperhatikan apakah salah satu sisi wajah tampak turun, Arms melihat apakah salah satu lengan sulit diangkat, Speech memeriksa apakah bicara menjadi pelo atau sulit dipahami, dan Time berarti segera mencari pertolongan medis apabila gejala tersebut muncul.
Semakin cepat penderita stroke mendapatkan penanganan di rumah sakit, semakin besar peluang untuk meminimalkan kerusakan otak dan meningkatkan kemungkinan pemulihan.
Selain mengenali gejalanya, masyarakat juga perlu mengendalikan faktor risiko stroke, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta konsumsi alkohol berlebihan. Menjalani pola hidup sehat dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjaga tekanan darah dapat membantu menurunkan risiko stroke. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.