ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat kerja sama internasional di sektor pendidikan keagamaan. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong perluasan kolaborasi dengan Negara Bagian Malaka, Malaysia, melalui program pertukaran santri, guru, hingga pengembangan jejaring antarpesantren.
Langkah tersebut menjadi tindak lanjut dari kemitraan sister province yang telah terjalin antara Jawa Tengah dan Malaka sejak 2025. Kini, kerja sama tidak hanya difokuskan pada hubungan antarpemerintah daerah, tetapi juga menyasar lembaga pendidikan Islam agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Hal tersebut disampaikan Taj Yasin saat menerima kunjungan Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin, Malaka, Malaysia, Muhammad Hadi Al Muhibbin, di Rumah Dinas Wakil Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Senin (13/7/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Gus Yasin tersebut, pesantren memiliki peran strategis dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Malaysia, khususnya melalui pertukaran sumber daya manusia di bidang pendidikan.
"Kita nanti pastikan lagi bagaimana kerja samanya antara Malaka dengan Jawa Tengah, terkhusus antara pondok-pondok pesantren di Jawa Tengah dengan salah satu pondok yang ada di Malaka," katanya.
Ia menjelaskan, kerja sama antarpesantren nantinya diharapkan mencakup berbagai program, mulai dari pertukaran santri, pertukaran tenaga pendidik, hingga kolaborasi pengembangan kurikulum dan jaringan pendidikan Islam.
Baca juga: Program Durenisasi Aiptu Eko Suroso Ubah Lahan Tidur Menjadi Sumber Harapan Warga Desa Pekuncen
"Selama ini hubungan ulama Indonesia dan Malaysia sudah berjalan baik. Ke depan, pertukaran santri dan pertukaran guru akan terus kita perkuat agar memberikan manfaat yang lebih luas," jelasnya.
Program Beasiswa Santri
Selain memperluas kerja sama internasional, Pemprov Jawa Tengah juga terus meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan pesantren melalui Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren. Program tersebut menjadi salah satu upaya mencetak sumber daya manusia unggul yang memiliki daya saing di tingkat global.
Pada tahun 2026, program beasiswa tersebut mencatat antusiasme tinggi dengan 941 pendaftar untuk jenjang S1, S2, dan S3, baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Adapun peserta yang lolos program internasional akan melanjutkan studi ke sejumlah negara seperti Mesir, Yaman, China, dan Filipina.
Gus Yasin menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa minat santri tidak lagi terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan. Kini, banyak santri mulai memilih bidang sains, teknologi, hingga kedokteran sebagai bekal untuk menghadapi tantangan masa depan.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin, Malaka, Muhammad Hadi Al Muhibbin, menyampaikan apresiasinya atas komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam memperkuat hubungan pendidikan dengan Malaysia.
Menurutnya, Indonesia dan Malaysia memiliki hubungan sejarah, budaya, serta tradisi keilmuan Islam yang telah terjalin sejak lama. Karena itu, kerja sama antarpesantren dinilai menjadi langkah strategis untuk mempererat hubungan kedua wilayah.
"Apabila hubungan antara pemerintah sudah terjalin dengan baik, akan lebih mudah untuk melaksanakan pertukaran pelajar antara Indonesia dan Malaysia. Silaturahmi seperti ini menjadi jalan untuk memperkuat hubungan keilmuan kedua wilayah," ujar Muhammad Hadi.
Melalui penguatan kerja sama ini, Jawa Tengah diharapkan semakin berperan sebagai pusat pengembangan pendidikan pesantren yang mampu membangun jejaring internasional, sekaligus melahirkan generasi santri yang memiliki wawasan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.