ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Tantrum merupakan salah satu fase perkembangan yang umum dialami anak, terutama pada usia 1 hingga 4 tahun. Kondisi ini ditandai dengan ledakan emosi seperti menangis keras, berteriak, berguling di lantai, melempar barang, hingga memukul atau menendang ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Meski sering membuat orang tua kewalahan, para ahli menegaskan bahwa tantrum bukan berarti anak nakal atau sengaja mencari perhatian. Sebaliknya, tantrum merupakan cara anak mengekspresikan perasaan yang belum mampu ia sampaikan dengan kata-kata.
Psikolog anak menjelaskan bahwa pada usia dini, kemampuan mengelola emosi dan berkomunikasi masih berkembang. Ketika anak merasa lelah, lapar, kecewa, takut, atau frustrasi, mereka bisa meluapkan emosinya melalui tantrum.
Orang tua diimbau untuk tidak langsung memarahi atau menghukum anak saat tantrum terjadi. Respons yang tenang justru menjadi kunci agar situasi tidak semakin memburuk.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua saat menghadapi anak tantrum:
Baca juga: 6 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-Diam Merusak Kesehatan
1. Tetap Tenang
Langkah pertama adalah mengendalikan emosi diri sendiri. Hindari membentak, mengancam, atau memukul anak karena tindakan tersebut dapat membuat anak semakin sulit mengendalikan emosinya.
2. Pastikan Anak Berada di Tempat Aman
Jika anak berguling atau mengamuk, jauhkan benda-benda yang berpotensi melukai. Pastikan lingkungan di sekitarnya aman hingga emosinya mulai mereda.
3. Jangan Langsung Menuruti Semua Keinginan
Baca juga: 13 Pekerjaan yang Diprediksi Tetap Aman dari AI, Mulai Guru, Dokter hingga Chef Profesional
Memberikan apa yang diinginkan anak hanya agar tangisnya berhenti justru bisa membuat anak belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan keinginannya. Orang tua perlu tetap konsisten terhadap aturan yang sudah dibuat.
4. Berikan Waktu Untuk Menenangkan Diri
Sebagian anak membutuhkan waktu beberapa menit untuk meredakan emosinya. Dampingi dari dekat tanpa memaksa anak segera berhenti menangis.
5. Peluk Jika Anak Menginginkannya
Beberapa anak merasa lebih tenang ketika dipeluk. Namun, jika anak menolak disentuh, berikan ruang sambil tetap mengawasi hingga emosinya mereda.
Baca juga: 9 Hobi yang Bisa Jadi Sumber Penghasilan, Cocok untuk Anak Muda yang Ingin Memulai Bisnis
6. Ajak Bicara Setelah Tantrum Selesai
Ketika anak sudah tenang, ajak berbicara dengan bahasa yang sederhana. Bantu anak mengenali emosinya, misalnya dengan mengatakan, "Tadi kamu marah karena mainannya diambil, ya?"
Cara ini membantu anak belajar mengenali dan mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.
7. Ajarkan Cara Menyampaikan Keinginan
Latih anak untuk meminta sesuatu dengan sopan dan mengungkapkan perasaan menggunakan kalimat sederhana. Semakin baik kemampuan komunikasi anak, semakin kecil kemungkinan tantrum terjadi.
Baca juga: Tips Menabung Harian agar Tabungan Cepat Bertambah, Cocok untuk Pemula
Meski tidak bisa dihindari sepenuhnya, frekuensi tantrum dapat dikurangi dengan beberapa langkah, antara lain memastikan anak cukup tidur, makan tepat waktu, memiliki rutinitas yang konsisten, memberi pilihan sederhana agar anak merasa memiliki kendali, serta memberikan pujian ketika anak berhasil mengendalikan emosinya.
Selain itu, orang tua sebaiknya mengenali pemicu tantrum masing-masing anak. Ada anak yang mudah marah saat lapar, ada pula yang sensitif terhadap keramaian atau kelelahan. Dengan memahami pemicunya, orang tua dapat mengantisipasi sebelum ledakan emosi terjadi.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.