ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto mencatat sektor jasa keuangan di wilayah eks Karesidenan Banyumas tetap berada dalam kondisi stabil dan menunjukkan pertumbuhan positif hingga April 2026. Kinerja tersebut tercermin dari peningkatan aset, penyaluran kredit, hingga penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), meski kondisi perekonomian global masih diwarnai berbagai tantangan.
Kepala Kantor OJK Purwokerto, Dinavia Tri Riandari mengatakan, stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah kerjanya tetap terjaga berkat fundamental industri keuangan yang masih kuat serta didukung aktivitas intermediasi yang terus tumbuh.
“Di tengah dinamika ekonomi dan pasar keuangan global, kondisi sektor jasa keuangan di wilayah kerja OJK Purwokerto tetap terjaga stabil. Sejumlah indikator utama menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, khususnya pada sektor perbankan,” kata Dinavia Tri Riandari, saat ngobrol santai bersama wartawan.
Hingga akhir April 2026, industri perbankan di wilayah kerja OJK Purwokerto mencatat pertumbuhan aset sebesar 1,03 persen secara tahunan (year on year/yoy). Penyaluran kredit juga meningkat 2,95 persen, sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih tinggi mencapai 7,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kinerja bank umum yang mencatatkan kenaikan aset sebesar 5,71 persen (yoy), kredit tumbuh 3,39 persen (yoy), serta DPK meningkat 8,09 persen (yoy).
Baca juga: Program Durenisasi Aiptu Eko Suroso Ubah Lahan Tidur Menjadi Sumber Harapan Warga Desa Pekuncen
Di sisi lain, Bank Perekonomian Rakyat dan BPR Syariah (BPR/S) masih menghadapi tekanan. Hingga April 2026, aset BPR/S mengalami kontraksi sebesar 1,71 persen (yoy), kredit turun 2,74 persen (yoy), sedangkan DPK terkoreksi tipis 0,17 persen (yoy).
Selain itu, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) BPR/S masih berada pada level 22,96 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi proses normalisasi kredit restrukturisasi pascapandemi Covid-19, sehingga sejumlah kredit yang sebelumnya memperoleh relaksasi harus disesuaikan kembali kualitasnya berdasarkan hasil penilaian masing-masing bank.
Penyaluran Kredit Modal Kerja
Meski demikian, penyaluran kredit BPR/S masih didominasi pembiayaan produktif. Kredit modal kerja menjadi porsi terbesar dengan pangsa mencapai 54,1 persen. Sebagian besar pembiayaan juga mengalir ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menyumbang 52,2 persen dari total kredit. Penyaluran terbesar masih berada pada sektor bukan lapangan usaha lainnya, perdagangan besar dan eceran, serta sektor konstruksi.
“BPR dan BPR Syariah tetap memiliki peran penting dalam mendukung pembiayaan sektor produktif, khususnya bagi pelaku UMKM yang menjadi penggerak utama perekonomian daerah,” kata Dinavia.
Baca juga: Doktor Ke-92 UIN Saizu Purwokerto Teliti Internalisasi Nilai Humanistik dalam Kurikulum Merdeka
Di sektor pasar modal, minat masyarakat untuk berinvestasi terus meningkat. Hingga Maret 2026, jumlah investor saham di wilayah kerja OJK Purwokerto melonjak 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah investor reksa dana tumbuh lebih tinggi, yakni mencapai 65 persen.
Peningkatan jumlah investor tersebut sejalan dengan naiknya nilai transaksi pasar modal yang mencapai Rp1,922 triliun atau meningkat 59,69 persen secara tahunan. Investor berusia 21 hingga 30 tahun masih mendominasi aktivitas transaksi di wilayah tersebut.
Kinerja positif juga terlihat pada sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB). Lembaga Keuangan Mikro (LKM) mencatat pertumbuhan aset sebesar 10,18 persen (yoy), penyaluran kredit meningkat 16,14 persen (yoy), serta penghimpunan DPK bertambah 11,58 persen (yoy).
Sementara itu, perusahaan pergadaian swasta membukukan kenaikan aset sebesar 44,54 persen menjadi Rp4,40 miliar pada Maret 2026. Penyaluran pinjaman juga meningkat 21,16 persen menjadi Rp3,19 miliar.
Pada industri asuransi, premi asuransi umum mengalami penurunan dari Rp79 miliar menjadi Rp49 miliar atau turun 38,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai klaim juga turun dari Rp30 miliar menjadi Rp29 miliar atau berkurang 2,44 persen.
Berbeda dengan asuransi umum, industri asuransi jiwa menunjukkan kinerja yang lebih baik. Premi meningkat dari Rp81 miliar menjadi Rp117 miliar atau tumbuh 43,78 persen secara tahunan. Di saat yang sama, nilai klaim turun cukup signifikan dari Rp80 miliar menjadi Rp54 miliar atau berkurang 32,99 persen.
Adapun industri perusahaan pembiayaan juga mencatatkan pertumbuhan positif. Hingga Maret 2026, total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp4,279 triliun. Penyaluran terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi, serta perawatan mobil dan sepeda motor dengan pangsa sekitar 21 persen dari total pembiayaan.
Dinavia menegaskan OJK akan terus memperkuat pengawasan serta mendorong industri jasa keuangan agar tetap sehat, inklusif, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
“Kami akan terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan melalui pengawasan yang efektif sekaligus mendorong peningkatan inklusi dan literasi keuangan agar manfaat pertumbuhan industri keuangan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” pungkasnya. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.