ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Perjuangan menghadirkan pendidikan bagi anak-anak di kawasan terpencil lereng Gunung Slamet mengantarkan Isrodin meraih penghargaan Liputan6 Award 2026. Pendiri MTs Pakis di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah tersebut, mendapat apresiasi atas dedikasinya membuka akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tinggal di kawasan pinggir hutan.
Di tengah keterbatasan akses jalan, jarak tempuh yang jauh, hingga kondisi ekonomi masyarakat, Isrodin memilih membangun harapan melalui pendidikan. Langkah tersebut menjadikan MTs Pakis bukan sekadar sekolah alternatif, tetapi juga ruang belajar bagi anak-anak yang selama ini sulit menjangkau pendidikan formal.
Penghargaan yang diraih Isrodin turut mendapat perhatian Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar. Menurutnya, perjuangan menghadirkan pendidikan di wilayah terpencil menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat lahir dari keterbatasan.
“Masih ada anak-anak yang harus berjuang hanya untuk bisa bersekolah. Di tengah kondisi itu, hadir orang-orang yang memilih tetap bergerak dan percaya bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan,” kata Nasaruddin.
Menag menilai pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ruang kelas formal, tetapi juga tentang menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh anak Indonesia.
Baca juga: Dua Sekolah Muhammadiyah Masuk SMA Unggul Garuda 2026, Bukti Mutu Pendidikan Kian Diakui Nasional
“Ada ungkapan besar bahwa yang mampu menaklukkan dunia dan akhirat adalah ilmu. Pak Isrodin menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan,” tambahnya.
Alumni UIN Saizu Purwokerto
Isrodin merupakan alumni Program Studi Kependidikan Islam yang kini bernama Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto. Semangat pengabdiannya terus berkembang hingga akhirnya mendirikan lembaga pendidikan berbasis masyarakat di lereng Gunung Slamet.
MTs Pakis berdiri di Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Sekolah tersebut dibangun bersama relawan dan komunitas Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Argo Wilis untuk menjawab minimnya akses pendidikan bagi warga pedalaman.
Tak hanya menghadirkan pendidikan tanpa biaya, keberadaan MTs Pakis juga menjadi langkah nyata mencegah pernikahan usia dini di wilayah lereng Gunung Slamet. Sekolah ini memberi kesempatan bagi anak-anak agar tetap melanjutkan pendidikan meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Baca juga: FTIK UIN Saizu Kirim 300 Mahasiswa ke Banjarnegara, Bantu Atasi Kekurangan Guru di Sekolah
Keunikan MTs Pakis terletak pada sistem pembelajaran berbasis agroforestri dan kearifan lokal. Selain pelajaran akademik, siswa juga dibekali pendidikan lingkungan, pelestarian alam, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Salah satu kebijakan yang menarik perhatian publik adalah sistem daftar ulang yang memperbolehkan siswa membayar menggunakan hasil bumi. Konsep tersebut dianggap lebih sesuai dengan kondisi masyarakat sekitar yang mayoritas bekerja di sektor pertanian dan kawasan hutan.
Saat menerima penghargaan di Studio Liputan6 Jakarta, Sabtu (23/5/2026), Isrodin menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberi manfaat nyata.
“Pendidikan harus berdampak dan punya makna dalam kehidupan masyarakat. Semua pihak perlu terlibat karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” kata Isrodin.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat pendidikan demi masa depan generasi muda.
“Mari menjadikan alam sebagai guru dan sekolah sebagai rumah bersama,” ucapnya. (*)
Baca juga: Pembangunan 93 Sekolah Rakyat Dikebut, Kemensos Targetkan Siap Digunakan Juli 2026
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.