ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Kesehat (Kemenkes) terus memperketat pemantauan terhadap kasus Hantavirus yang ditemukan di DKI Jakarta. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menegaskan masyarakat tidak perlu panik karena virus tersebut tidak mudah menular antarmanusia seperti COVID-19.
Menurut Menkes, pengawasan intensif masih dilakukan terhadap pasien maupun seluruh kontak erat untuk memastikan kondisi benar-benar aman sebelum masa observasi berakhir.
“Kami terus melakukan pemantauan sampai benar-benar dipastikan aman,” kata Budi Gunadi Sadikin.
Kasus ini diketahui berasal dari seorang warga negara asing (WNA) yang sebelumnya berada di kapal luar negeri. Pemerintah Indonesia menerima laporan dari otoritas kesehatan Inggris pada 7 Mei 2026 terkait potensi paparan Hantavirus. Setelah menerima informasi tersebut, tim kesehatan bergerak cepat melakukan pelacakan. Pada 8 Mei 2026, pasien berhasil ditemukan dan langsung dievakuasi ke RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso untuk menjalani isolasi dan observasi medis lebih lanjut.
Budi menilai penanganan cepat ini menunjukkan sistem surveilans kesehatan Indonesia kini jauh lebih siap dibanding masa sebelum pandemi COVID-19. Ia menyebut koordinasi internasional dan respons deteksi dini menjadi lebih efektif.
Baca juga: Bolehkah Penderita Hipertensi Minum Kopi? Ini Batas Aman dan Tips Konsumsinya
“Hasil pembelajaran dari pandemi membuat kemampuan surveilans Indonesia meningkat signifikan,” jelasnya.
Kontak Pasien Negatif
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni menjelaskan alasan pemerintah memilih RSPI Sulianti Saroso sebagai lokasi isolasi pasien.
Menurutnya, rumah sakit tersebut memang dirancang khusus menangani penyakit infeksi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih fokus dan terkontrol. Meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbolehkan isolasi mandiri, pemerintah memilih langkah yang lebih ketat sebagai bentuk antisipasi.
“Langkah ini dilakukan sebagai precautionary measures agar pengawasan pasien lebih optimal,” ujar Andi.
Baca juga: Kacang Kapri, Superfood Kaya Serat yang Bantu Cegah Diabetes dan Jaga Kesehatan Jantung
Hingga kini, seluruh hasil pemeriksaan terhadap kontak erat pasien menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, pasien tetap menjalani isolasi selama masa inkubasi yang ditetapkan selama dua minggu sejak 8 Mei 2026.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan penyakit yang disebabkan oleh Orthohantavirus dan umumnya menular melalui hewan pengerat seperti tikus maupun curut. Penularan dapat terjadi melalui gigitan atau paparan cairan tubuh hewan seperti air liur, urin, dan feses.
Secara medis, terdapat dua jenis utama penyakit akibat Hantavirus, yaitu:
Sampai saat ini belum tersedia obat khusus untuk Hantavirus. Penanganan medis dilakukan berdasarkan gejala yang dialami pasien melalui terapi suportif dan perawatan intensif.
Baca juga: Tanda Kolesterol Tinggi yang Sering Diabaikan, Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat
Menkes Budi juga menjelaskan bahwa varian Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berasal dari varian Asia dengan tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen. Angka tersebut dinilai jauh lebih rendah dibanding varian Andes di Amerika Selatan yang memiliki risiko kematian mencapai 50 hingga 60 persen. Ia kembali menegaskan bahwa mayoritas penularan Hantavirus berasal dari tikus, bukan dari manusia ke manusia.
“Sekitar 99 persen penularan terjadi melalui tikus,” tegasnya.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.