ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO — Wilayah Purwokerto dan Cilacap mengalami deflasi pada April 2026 seiring mulai normalnya harga kebutuhan pokok pasca Ramadan dan Idulfitri. Kondisi ini dinilai menjadi indikator positif bahwa stabilitas harga pangan di Banyumas Raya tetap terjaga.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Purwokerto mencatat deflasi sebesar 0,07 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada April 2026. Angka tersebut turun dibandingkan Maret 2026 yang mengalami inflasi sebesar 0,68 persen. Sementara itu, Cilacap mengalami deflasi lebih dalam yakni sebesar 0,21 persen mtm, setelah pada Maret 2026 mencatat inflasi sebesar 0,70 persen.
Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Purwokerto tercatat sebesar 2,12 persen dan Cilacap sebesar 2,23 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny mengatakan, deflasi yang terjadi pada April 2026 dipengaruhi normalisasi permintaan masyarakat setelah berakhirnya momentum Lebaran.
“Setelah periode Ramadan dan Idulfitri berakhir, permintaan masyarakat terhadap sejumlah komoditas pangan mulai kembali normal. Hal ini berdampak pada turunnya harga beberapa bahan pokok serta tarif transportasi antarkota,” kata Christoveny.
Baca juga: Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran Setengah Kilogram Ganja, Pengedar Asal Wangon Dibekuk
Menurutnya, penurunan harga komoditas pangan terutama terjadi pada daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit yang sebelumnya sempat mengalami kenaikan selama periode hari besar keagamaan nasional.
Selain faktor pangan, lanjut Christoveny, menurunnya mobilitas masyarakat pasca arus mudik dan balik Lebaran turut memberikan andil terhadap penurunan tarif angkutan umum.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa inflasi di wilayah Banyumas Raya masih terkendali dan stabil. Secara tahunan, inflasi tetap berada dalam sasaran nasional sehingga daya beli masyarakat relatif terjaga,” jelasnya.
Penyumbang Deflasi
Di Purwokerto, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan penurunan sebesar 0,62 persen dan andil deflasi mencapai 0,19 persen.
Baca juga: Rumah di Kemranjen Banyumas Ludes Dibakar, Pelaku Diduga Anak Kandung yang Alami Gangguan Jiwa
Sementara di Cilacap, kelompok yang sama mengalami deflasi sebesar 0,67 persen dengan kontribusi terhadap deflasi sebesar 0,22 persen.
Christoveny menambahkan, capaian inflasi yang tetap terkendali merupakan hasil sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Banyumas Raya.
“Koordinasi pengendalian inflasi terus kami perkuat melalui berbagai program strategis seperti Gerakan Pangan Murah, kerja sama antar daerah, penguatan distribusi pangan, hingga pengembangan sentra pangan lokal,” jelasnya.
Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Baca juga: Polresta Banyumas Persempit Ruang Balap Liar, Pelanggar Ditindak Tegas
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah di tengah dinamika perekonomian nasional maupun global.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.