Banner Utama

Kemenag Luncurkan Panduan Pembelajaran Ramadan 2026, Fokus pada Karakter dan Kepedulian Sosial Murid

Pendidikan
By Ariyani  —  On Feb 18, 2026
Caption Foto : Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno. (Foto : Dok. Kemenag).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) resmi merilis Petunjuk Teknis (Juknis) Pembelajaran Ramadan 2026 sebagai panduan bagi seluruh madrasah di Indonesia dalam mengatur kegiatan belajar selama bulan suci. Juknis ini, yang tertuang dalam Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 1290 Tahun 2026, menekankan bahwa pembelajaran Ramadan bukan sekadar penyesuaian jadwal akademik, tetapi juga momen strategis untuk memperkuat dimensi spiritual, moral, dan sosial peserta didik.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menjelaskan bahwa Ramadan menjadi kesempatan bagi madrasah untuk menanamkan karakter unggul, seperti keimanan, disiplin, akhlak mulia, dan kepedulian sosial.

“Madrasah memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan nilai ibadah dengan pendidikan. Dengan pendekatan ini, pembelajaran di bulan suci berlangsung lebih bermakna dan kontekstual,” ujar Amien, Rabu (18/2/2026).

Sementara itu, Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, menekankan pentingnya Ramadan sebagai fase pembiasaan sikap dan penguatan nilai moral. Menurutnya, aktivitas di madrasah pada bulan ini menjadi ruang untuk membentuk empati sosial dan karakter positif murid.

Tiga Tahap Juknis

Baca juga: 400 Siswa Unggulan Lolos Seleksi SMA Kemala Taruna Bhayangkara 2026

Juknis Pembelajaran Ramadan 2026 membagi kegiatan menjadi tiga tahap. Tahap pertama, Tarhib Ramadan, menekankan penguatan relasi keluarga. Murid diarahkan membangun kebersamaan di rumah, mempersiapkan mental dan spiritual menyambut bulan suci. Tahap kedua, pembelajaran intensif di madrasah, fokus pada pembinaan karakter melalui tahsin Al-Qur’an, pemahaman ayat, praktik ibadah dan adab, serta refleksi diri. Orang tua dilibatkan dalam evaluasi agar pembelajaran lebih kontekstual. Tahap ketiga, libur Idulfitri, menjadi fase implementasi nilai sosial, seperti silaturahmi dan kegiatan kemasyarakatan.

Madrasah juga didorong menyelenggarakan Pesantren Ramadan minimal tiga hari, dengan fleksibilitas model pembelajaran mulai dari mukim, semi full day, hingga terintegrasi.

Kemenag menekankan bahwa tujuan pembelajaran Ramadan bukan sekadar mengejar target kuantitatif, seperti khatam Al-Qur’an. Pendekatan yang diutamakan adalah kualitas bacaan, pemahaman, dan internalisasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi dilakukan melalui jurnal refleksi, kartu kendali tahsin, dan lembar observasi sikap, terutama bagi murid RA dan MI kelas awal.

Selain itu, madrasah didorong mengembangkan kegiatan sosial, seperti edukasi zakat fitrah dan pembagian takjil, sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual. Kolaborasi antara madrasah dan orang tua dinilai krusial untuk memastikan keberhasilan program ini.

“Keberhasilan pembelajaran Ramadan akan terlihat dari perubahan sikap dan perilaku murid, bukan semata kelengkapan laporan kegiatan,” tegas Nyayu.

Baca juga: Unsoed Gandeng PT Sang Hyang Seri, Perkuat Riset Benih Unggul untuk Ketahanan Pangan


Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: