ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Pengembangan pertanian terpadu mulai menunjukkan hasil di Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mendampingi masyarakat mengembangkan sistem mina padi yang memadukan budidaya ikan dan tanaman padi dalam satu lahan.
Hasilnya mulai terlihat dalam panen perdana pekan ini. Dari lahan mina padi masyarakat, sebanyak 71 kilogram ikan berhasil dipanen.
Program tersebut menjadi bagian dari pendampingan Unsoed yang telah berjalan selama tiga tahun di Desa Panembangan. Perguruan tinggi tidak hanya mendorong peningkatan hasil pertanian dan perikanan, tetapi juga mengarahkan pengembangan mina padi agar dapat mendukung potensi wisata desa.
Ketua Tim PDB Panembangan, Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto mengatakan, panen 71 kilogram ikan tersebut merupakan salah satu tahapan dalam siklus budidaya mina padi.
“Setelah panen pertama, kegiatan dilanjutkan dengan panen ikan pada empat kolam mina padi lainnya. Tahapan berikutnya diarahkan pada panen padi sebagai bagian dari siklus budidaya terpadu,” ujar Prof. Totok.
Baca juga: Bullying di Sekolah Tak Bisa Dianggap Sepele, Edukasi Sejak Dini Jadi Kunci Pencegahan
Mina Padi Panembangan Dikembangkan Secara Bertahap
Pengembangan mina padi di Panembangan bukan program yang dilakukan dalam waktu singkat. Selama tiga tahun, Unsoed secara bertahap memperkenalkan teknologi, meningkatkan keterampilan masyarakat, sekaligus membangun sistem produksi yang lebih mandiri. Salah satu teknologi yang diterapkan adalah Mina Padi Protani Salibu. Teknologi tersebut dikembangkan untuk mendukung keberlanjutan pola tanam sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
Pada tahun pertama, kegiatan difokuskan pada rekayasa Mina Padi Protani Salibu, edukasi mengenai varietas unggul dan peningkatan produktivitas padi. Masyarakat juga mendapatkan pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan lokal. Selain itu, pendampingan diarahkan pada peningkatan sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, manajemen, hingga pengembangan potensi wisata desa.
Memasuki tahun kedua, program berkembang pada upaya produksi pakan ikan secara mandiri. Masyarakat mulai memanfaatkan alat pembuat pelet apung, disertai peningkatan produktivitas padi dan standardisasi pakan ikan. Pengembangan sistem informasi wisata terpadu juga mulai dilakukan untuk mendukung potensi wisata yang berada di kawasan mina padi.
“Pada tahun ketiga, pengembangan diperluas ke lahan masyarakat,” kata Prof. Totok.
Baca juga: Bersih dan Higienis, Begini Cara SPPG Kanding Banyumas Menjaga Kualitas Makanan MBG
Pada tahap ketiga tersebut, pendampingan mencakup peningkatan kapasitas produksi pakan ikan lokal, penerapan sistem informasi wisata, penguatan pengelolaan wisata, serta penyusunan dan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan pakan ikan.
Pengembangan mina padi di Desa Panembangan juga didukung penerapan teknologi untuk membantu masyarakat memantau kondisi lahan dan kualitas air. Tim PDB Unsoed melakukan penebaran benih ikan sekaligus memberikan pendampingan dalam penyusunan SOP produksi pakan ikan. Teknologi Internet of Things (IoT) turut diuji coba untuk memantau sejumlah parameter kualitas air.
Parameter yang dipantau antara lain tingkat keasaman atau pH, oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO), serta ketinggian air. Hingga tahap pelaksanaan saat ini, sebanyak 5.000 benih ikan telah ditebar di lahan mina padi masyarakat. Sementara itu, produksi pakan ikan secara mandiri telah mencapai 100 kilogram. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan program yang telah berjalan selama tiga tahun.
Berdasarkan evaluasi, tingkat keberdayaan mitra tercatat meningkat hingga 80 persen. Peningkatan tersebut terlihat dari sejumlah kemampuan baru yang dimiliki masyarakat, mulai dari penyusunan SOP manajemen produksi ikan hingga penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).
Masyarakat juga semakin terampil menerapkan teknologi Protani Salibu dan mulai memanfaatkan media sosial untuk mendukung pemasaran hasil produksi.
Baca juga: Pemkab Kebumen Pangkas Anggaran Hibah dan Bansos Rp26,96 Miliar
Program PDB Unsoed di Panembangan dirancang untuk menjawab sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat. Di antaranya produktivitas padi yang masih perlu ditingkatkan, indeks pertanaman yang belum optimal, serta tingginya biaya pakan ikan. Ketergantungan terhadap pakan ikan komersial juga menjadi salah satu persoalan yang coba diatasi melalui produksi pakan berbahan lokal secara mandiri. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.