Matcha Identik dengan Cewek, Kopi Identik dengan Cowok? Begini Fenomena Gender dalam Pilihan Minuman

Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Pernah memperhatikan bagaimana pilihan minuman di kafe seolah memiliki “gender”? Matcha latte sering terlihat melekat dengan gaya minum perempuan, sementara kopi hitam, americano, hingga espresso kerap diasosiasikan dengan laki-laki.

Memang tidak ada aturan bahwa matcha adalah minuman perempuan dan kopi merupakan minuman laki-laki. Namun, dalam budaya populer dan tren media sosial, kedua minuman tersebut seperti memiliki citra yang berbeda. Matcha sering tampil dengan warna hijau lembut, sajian estetik, dan nuansa modern yang kemudian banyak dikaitkan dengan gaya hidup perempuan muda.

Sebaliknya, kopi sejak lama memiliki citra yang lebih maskulin. Secangkir kopi hitam, espresso, atau americano sering digambarkan sebagai teman bekerja, berdiskusi, begadang, hingga menemani aktivitas di luar ruangan. Kesan pahit, kuat, dan sederhana membuat kopi kerap diasosiasikan dengan karakter yang dianggap lebih “jantan”.

Namun, sebenarnya persoalannya bukan pada jenis kelamin peminumnya, melainkan bagaimana budaya dan pemasaran membentuk persepsi terhadap sebuah produk.

Matcha dan Citra Minuman yang Estetik

Baca juga: Rutin Makan Buah Setiap Pagi? Ini yang Bisa Terjadi pada Tubuh

Matcha memiliki daya tarik yang cukup kuat di kalangan pencinta minuman kekinian. Warna hijaunya yang khas membuat matcha mudah tampil menarik dalam foto maupun video.

Matcha latte, misalnya, sering disajikan dalam gelas transparan dengan perpaduan warna hijau dan putih. Tidak mengherankan jika minuman ini kemudian menjadi bagian dari tren kuliner dan gaya hidup yang banyak beredar di media sosial.

Citra tersebut kemudian semakin diperkuat oleh berbagai konten lifestyle. Matcha tidak hanya diposisikan sebagai minuman, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman menikmati waktu santai, bekerja dari kafe, membaca buku, atau sekadar menikmati suasana.

Karena representasi semacam itu cukup sering menampilkan perempuan, muncul anggapan bahwa matcha merupakan “minuman cewek”. Padahal, tentu saja laki-laki juga banyak yang menikmati matcha. Begitu pula perempuan tidak sedikit yang justru memilih kopi hitam sebagai minuman favorit.

Kopi dan Kesan Maskulin

Baca juga: Telinga Terasa Kotor Langsung Dikorek? Hati - hati, Cutton Bud Bisa Bikin Masalah

Kopi memiliki sejarah dan budaya yang jauh lebih panjang. Dari warung kopi tradisional hingga coffee shop modern, kopi menjadi bagian dari rutinitas banyak orang.

Kopi hitam khususnya sering mendapatkan citra sebagai minuman yang sederhana dan kuat. Americano, espresso, atau kopi tubruk bahkan kerap dikaitkan dengan orang yang membutuhkan rasa dan efek kopi tanpa tambahan pemanis atau susu.

Dalam berbagai film, iklan, maupun konten media sosial, laki-laki yang duduk sambil menyeruput kopi sering digunakan untuk menggambarkan sosok pekerja keras, serius, mandiri, atau sedang mengejar target.

Citra tersebut secara perlahan membuat kopi terasa lebih “maskulin”. Padahal, sama seperti matcha, kopi tidak mengenal gender. Rasa pahit bukan milik laki-laki dan warna hijau bukan milik perempuan. 

Menariknya, pilihan minuman sekarang tidak hanya berkaitan dengan rasa. Minuman juga dapat menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup. Seseorang mungkin memilih matcha karena menyukai rasanya. Orang lain memilih kopi karena membutuhkan kafein untuk menemani pekerjaan. Ada pula yang berganti-ganti antara keduanya sesuai suasana hati.

Baca juga: Harus Bergadang? Ini Tips Aman Buatmu yang Harus Melek Tengah Malam

Di era media sosial, pilihan minuman bahkan bisa menjadi bagian dari personal branding. Foto secangkir matcha dengan laptop dan buku dapat menciptakan kesan tertentu. Begitu pula foto espresso atau kopi hitam di meja kerja dapat memberikan kesan yang berbeda. Artinya, yang sebenarnya “bergender” bukan minumannya, melainkan citra yang dibangun di sekeliling minuman tersebut. 

Anggapan matcha identik dengan perempuan dan kopi identik dengan laki-laki lebih tepat dipahami sebagai fenomena budaya dan tren konsumsi, bukan sebuah aturan. Perempuan bisa menikmati espresso tanpa gula. Laki-laki bisa memesan matcha latte dengan extra cream. Seseorang bahkan bisa memulai pagi dengan kopi dan sore harinya menikmati matcha. Pada akhirnya, pilihan minuman adalah persoalan selera.

Jika menyukai rasa earthy dan sedikit pahit dari matcha, nikmati saja. Jika lebih menyukai aroma kopi yang kuat dan rasa pahitnya, pesan kopi favorit. Tidak perlu khawatir apakah minuman tersebut terlihat terlalu feminin atau terlalu maskulin.

Sebab, di balik secangkir kopi atau segelas matcha, yang paling penting bukan siapa yang meminumnya, tetapi apakah minuman itu mampu membuat hari terasa sedikit lebih menyenangkan. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

■ ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Kemarau, Harga Beras Naik, Belanja Dapur Makin Berat
VOX

Kemarau, Harga Beras Naik, Belanja Dapur Makin Berat

Redaksi Orbit-News.com | 17 Sep 2026

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: