FK Unsoed Edukasi Pasien Diabetes di Purwokerto, Kenalkan Manfaat Kefir dan Tempe Fermentasi

Banyumas Raya Pendidikan
By Hervina  —  On Oct 14, 2026
Caption Foto : Fakultas Kedokteran Unsoed mengenalkan pangan fermentasi lokal kepada pasien diabetes. (Foto : Dok. Unsoed).

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (FK Unsoed) mendorong pasien diabetes melitus menerapkan pola makan sehat sekaligus memahami pentingnya keamanan pangan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengenalkan pangan fermentasi lokal, seperti kefir dan tempe, melalui edukasi kesehatan dan praktik pengolahan makanan secara higienis.

Program tersebut dikemas dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset bertajuk “Pemberdayaan Penderita Diabetes Melitus melalui Inovasi Diet Probiotik Kefir dan Tempe”. Bekerja sama dengan Klinik Pratama Rawat Jalan Tanjung Purwokerto. Peserta kegiatan merupakan pasien diabetes melitus yang mendapatkan pelayanan di Klinik Pratama Rawat Jalan Tanjung Purwokerto. Mereka memperoleh edukasi mengenai kesehatan mikrobiota usus, pemilihan makanan yang aman, serta potensi pangan fermentasi untuk mendukung pola konsumsi sehari-hari.

Ketua Tim Pengabdi Unsoed, Anriani Puspita Karunia Ning Widhi mengatakan, pengelolaan diabetes tidak cukup hanya dengan membatasi jenis makanan. Pasien juga perlu membangun kebiasaan makan yang sehat, seimbang, dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

“Melalui pemilihan pangan yang tepat, edukasi ini mengajak masyarakat untuk mengenal serta memanfaatkan potensi pangan fungsional lokal, seperti tempe dan kefir yang berasal dari fermentasi susu sapi atau kambing, sebagai pilihan pangan bergizi yang mendukung kesehatan pencernaan,” ujarnya.

Pangan Fermentasi

Baca juga: Bullying di Sekolah Tak Bisa Dianggap Sepele, Edukasi Sejak Dini Jadi Kunci Pencegahan

Menurut Anriani, pengenalan pangan fermentasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pilihan makanan yang beragam. Meski demikian, konsumsi kefir dan tempe tetap harus memperhatikan keamanan pengolahan serta kebutuhan gizi masing-masing individu.

Ia juga menegaskan bahwa pangan fermentasi bukan pengganti pengobatan medis bagi pasien diabetes. Pemanfaatannya perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola makan seimbang yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan anjuran tenaga medis.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan dua materi utama. Materi pertama membahas “Edukasi Keamanan Pangan Mikrobiologis: Menjaga Keseimbangan Mikrobiota Usus dan Mitigasi Bakteri Resisten (ESBL)”, yang disampaikan oleh Dr. dr. Dwi Utami Anjarwati.

Materi ini menjelaskan hubungan keamanan pangan dengan keseimbangan mikrobiota usus, sekaligus memperkenalkan risiko bakteri penghasil Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL). Bakteri tersebut menghasilkan enzim yang membuat bakteri menjadi kebal terhadap sejumlah antibiotik sehingga berpotensi menyulitkan penanganan infeksi.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya memilih bahan pangan yang aman, menjaga kebersihan tangan dan peralatan, serta menerapkan praktik higiene selama proses penyiapan hingga pengolahan makanan. Langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko kontaminasi mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan.

Baca juga: Bersih dan Higienis, Begini Cara SPPG Kanding Banyumas Menjaga Kualitas Makanan MBG

Materi berikutnya disampaikan oleh Anriani dengan topik “Pengenalan Kefir, serta Inovasi Olahan Tempe dan Kefir”. Dalam sesi ini, peserta mengenal karakteristik kefir dan tempe sebagai produk fermentasi serta peluang pengolahannya menjadi pilihan pangan sehari-hari.

Tak hanya memperoleh materi teori, peserta juga mengikuti praktik pembuatan kefir berbahan susu kambing secara mandiri dengan memperhatikan prinsip kebersihan. Setiap peserta mendapatkan satu set peralatan dan bahan baku untuk mempraktikkan tahapan pembuatannya.

Praktik langsung tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep pangan fermentasi, tetapi juga mengetahui pentingnya menjaga kebersihan bahan, peralatan, dan proses pengolahan. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara lebih tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui program pengabdian berbasis riset ini, FK Unsoed berharap literasi kesehatan dan keamanan pangan di kalangan pasien diabetes melitus semakin meningkat. Edukasi yang dipadukan dengan praktik diharapkan membantu peserta mengambil keputusan yang lebih bijak dalam memilih dan mengolah makanan.

Upaya ini sekaligus memperkenalkan potensi pangan fermentasi lokal sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang, dengan tetap mengutamakan keamanan pangan serta pengelolaan diabetes sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. (*)

Baca juga: Pemkab Kebumen Pangkas Anggaran Hibah dan Bansos Rp26,96 Miliar

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

■ ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: