ORBIT-NEWS.COM, PURBALINGGA – Membiasakan anak membaca di tengah derasnya arus informasi digital menjadi perhatian Pemkab Purbalingga. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui Festival Literasi Purbalingga 2026 yang menggabungkan kegiatan membaca, kreativitas, diskusi hingga pengenalan budaya lokal.
Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif mengatakan, perkembangan teknologi membuat anak semakin mudah mengakses beragam informasi melalui gawai dan internet. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memahami, menyaring, dan mengolah informasi.
Menurutnya, anak tidak cukup hanya mampu menerima informasi yang muncul di layar. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis dan mengubah informasi tersebut menjadi pengetahuan.
“Sebanyak apapun buku yang kita miliki, sebesar apapun kita mendorong dan memotivasi anak untuk membaca, jika kita tidak menunjukkan ketertarikan untuk membaca, maka anak-anak kita tidak akan mungkin juga tertarik untuk membaca,” kata Fahmi saat membuka Festival Literasi Purbalingga, Kamis (8/10/2026).
Karena itu, lanjut Fahmi, budaya membaca harus dikenalkan sejak anak masih berada di usia dini. Pendidikan anak usia dini atau PAUD dinilai menjadi salah satu tahap penting untuk membangun fondasi tersebut.
Baca juga: Bersih dan Higienis, Begini Cara SPPG Kanding Banyumas Menjaga Kualitas Makanan MBG
Ia menekankan, proses belajar di PAUD sebaiknya tetap dikemas dengan cara yang menyenangkan. Dengan demikian, anak dapat menikmati proses belajar dan tidak kehilangan rasa ingin tahu ketika memasuki jenjang sekolah dasar.
240 Buku Cerita Anak Dibagikan
Komitmen memperkuat literasi anak di Purbalingga juga ditandai dengan peluncuran tiga buku cerita anak karya Bunda PAUD Kabupaten Purbalingga dalam rangkaian Festival Literasi Purbalingga 2026. Sebanyak 240 buku didonasikan kepada lembaga PAUD dan anak-anak. Buku tersebut diharapkan dapat memperkaya pilihan bacaan sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan anak pada lingkungan di sekitarnya.
Bunda PAUD Kabupaten Purbalingga, Syahzani Fahmi M Hanif mengatakan, cerita dalam buku dibuat sederhana dan dekat dengan kehidupan anak. Sejumlah destinasi serta makanan khas Purbalingga turut diperkenalkan melalui cerita.
“Buku ini menyajikan cerita sederhana yang mengenalkan lingkungan lokal, seperti Alun-Alun Purbalingga dan Goa Lawa, serta makanan khas onde-onde dan ondol-ondol,” katanya.
Baca juga: Pemkab Kebumen Pangkas Anggaran Hibah dan Bansos Rp26,96 Miliar
Budaya literasi membutuhkan dukungan lingkungan belajar yang memadai. Karena itu, dalam rangkaian kegiatan tersebut Pemkab Purbalingga memberikan hibah senilai Rp200 juta kepada 20 lembaga PAUD. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi peningkatan sarana dan prasarana fisik. Fahmi berharap dukungan itu dapat menciptakan lingkungan belajar yang semakin nyaman dan mendukung perkembangan anak.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Purbalingga, Endi Astono mengatakan, makna literasi saat ini tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan seseorang dalam memahami serta mengolah informasi untuk menghasilkan pengetahuan, karya, inovasi, maupun gagasan yang memiliki manfaat.
“Literasi tidak hanya dipandang sebagai aktivitas mengeja ataupun merangkai kalimat di atas kertas, melainkan sebagai kunci pembuka gerbang pengetahuan, sarana adaptasi teknologi serta media sosial yang sangat menentukan kemajuan suatu daerah,” ujarnya.
Festival Literasi Purbalingga Hadirkan 21 Stan
Festival Literasi Purbalingga 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 8 hingga 10 Oktober. Tahun ini, kegiatan tersebut mengangkat tema “Kolaborasi Untuk Literasi, Literasi Untuk Kesejahteraan Purbalingga”. Sebanyak 21 stan literasi ikut memeriahkan kegiatan tersebut. Pesertanya berasal dari berbagai unsur, di antaranya Polres Purbalingga, Lanud Jenderal Soedirman, perpustakaan desa dan sekolah, lembaga keuangan, taman bacaan masyarakat, serta pelaku UMKM.
Baca juga: Peringati HUT Humas Polri ke - 75, Polres Kebumen Bantu Warga Terdampak Kekeringan
Masyarakat juga dapat mengikuti beragam agenda selama festival, mulai dari kegiatan mewarnai keluarga, pertunjukan seni dan musik, musikalisasi puisi, dialog interaktif, workshop, bedah buku, talkshow, nonton bareng, literasi budaya hingga pagelaran wayang kulit.
Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah pertunjukan wayang kulit oleh dalang cilik Ananda Affan Kita Nurfalah. Siswa SD Negeri Selakambang tersebut tampil dalam puncak acara sekaligus menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengembangkan kreativitas.
Melalui Festival Literasi Purbalingga 2026, budaya membaca tidak hanya diperkenalkan melalui buku. Literasi dikemas dalam berbagai aktivitas yang memungkinkan anak belajar, berkreasi, berdiskusi sekaligus mengenal budaya dan lingkungan lokal sejak usia dini. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.