ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Cahaya bulan purnama menerangi langit Mandirancan pada malam puncak Festival Babad Banyumas 2026. Di bawah terang rembulan, kisah perjalanan sejarah Banyumas kembali dihidupkan melalui pertunjukan seni tradisional yang mengangkat cerita Jaka Kahiman hingga sejarah berdirinya Banyumas.
Malam puncak Festival Babad Banyumas 2026 tersebut menjadi ruang pertemuan antara sejarah, tradisi, dan kesenian lokal Banyumasan. Kisah masa lalu tidak sekadar disampaikan dalam bentuk cerita, tetapi diterjemahkan ke dalam pertunjukan Begalan, wayang, gubrak lesung rebana, hingga kenthongan.
Salah satu pertunjukan utama yang menjadi perhatian adalah Begalan Jaka Kaiman. Kesenian tradisional tersebut dipilih untuk mengingat kembali kisah pernikahan keturunan Jaka Kahiman sekaligus mengenalkan asal-usul tradisi Begalan kepada masyarakat.
Kang Nassirun Purwokartun, penggagas Festival Babad Banyumas 2026, mengatakan Begalan memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Banyumas. Setelah Jaka Kahiman mendirikan Kadipaten Banyumas, putranya, Ngabehi Janah, menikah dengan Rara Warsiki, putri Ki Ageng Gumelem.
“Salah satu tujuan penyelenggaraan Festival Babad Banyumas ini adalah untuk mengenalkan asal mula Begalan,” ujar Kang Nass, Selasa (29/9/2026).
Baca juga: ABK KMN Barokah Anak Mas 03 Meninggal di Laut
Selain Begalan, sejarah berdirinya Banyumas juga dikemas dalam pertunjukan wayang. Cerita tersebut dibawakan oleh Ki Ulum Karto Diwiryo, dalang muda asal Sumpiuh yang turut terlibat dalam upaya memperkenalkan sejarah Banyumas melalui seni pertunjukan.
Pertemuan Kesenian Tradisional
Tidak hanya menampilkan sejarah, Festival Babad Banyumas juga mempertemukan sejumlah kesenian tradisional yang berkembang di masyarakat. Grup Pangastuti tampil melalui Gubrak Lesung Rebana, sebuah pertunjukan yang memadukan unsur seni masyarakat agraris dengan tradisi kaum santri.
Pertunjukan lainnya datang dari Grup Bambu Nada melalui kesenian kenthongan. Grup tersebut merupakan juara Festival Kenthongan Banyumas 2026 sehingga kehadirannya turut memberikan warna tersendiri dalam malam puncak festival.
Festival Babad Banyumas 2026 digelar selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, 25–27 September 2026. Kegiatan tersebut digagas oleh Kang Nassirun Purwokartun, penulis 101 serial Babad Banyumas sekaligus pimpinan Bale Babad Banyumas di bawah naungan Yayasan Bale Pustaka Cahaya.
Baca juga: Curanmor di Purwokerto Selatan Terungkap Kurang dari 1 Jam
Hari pertama festival dipusatkan di Bale Babad Banyumas dengan tema utama pelestarian dongeng. Sejumlah kegiatan digelar, mulai dari menggambar Wayang Dongeng, mendongeng Babad Banyumas hingga pameran Wayang Dongeng.
Memasuki hari kedua, kegiatan festival dibagi menjadi dua agenda. Pada pagi hingga siang hari, kegiatan kembali berlangsung di Bale Babad Banyumas dengan fokus pada upaya pelestarian babad.
Agenda tersebut diisi dengan kegiatan menggambar Wayang Babad, Pameran Wayang Babad, serta Pameran Cover Babad.
Sementara itu, pada Sabtu malam, rangkaian kegiatan berlanjut ke malam puncak Festival Babad Banyumas. Empat kesenian tradisional dipadukan dalam satu pertunjukan, yakni Gubrak Lesung Rebana, Begalan Jaka Kahiman, Wayangan Babad Banyumas, dan kesenian kenthongan.
Rangkaian Festival Babad Banyumas kemudian ditutup dengan pertunjukan Wayang Methuk Sandekala pada Minggu sore, 27 September 2026. Pementasan tersebut kembali menghadirkan Ki Dalang Ulum Karto Diwiryo.
Baca juga: Kebakaran Lahan Perhutani di Buayan Kebumen Meluas hingga 2 Hektare
Dalam pertunjukan itu, Ki Ulum membawakan cerita Babad Panggih Warih. Cerita tersebut merupakan karya Kang Nassirun Purwokartun yang dibuat sebagai bagian dari kampanye pelestarian mata air Kalimambu di Desa Mandirancan.
Pertunjukan tersebut juga menghadirkan aksi yang menjadi ciri khas Ki Ulum. Seusai mendalang, dalang muda tersebut melompat ke Kedung Bunder. Aksi tersebut menjadi bagian dari identitas Ki Ulum hingga dirinya dikenal dengan julukan “Dhalang Nyemplung Kedung”.
"Festival Babad Banyumas 2026 menunjukkan bahwa sejarah daerah dapat terus dikenalkan melalui cara yang dekat dengan masyarakat. Kisah tokoh dan perjalanan Banyumas tidak hanya tersimpan dalam catatan, tetapi dapat dihidupkan kembali melalui panggung seni, pertunjukan tradisional, dan kreativitas generasi muda," ucap Kang Nass.
Melalui perpaduan Begalan, wayang, kenthongan, serta kesenian tradisional lainnya, Festival Babad Banyumas menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali akar sejarah dan budaya Banyumas kepada masyarakat, terutama generasi muda. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.