ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA — Pemerintah daerah di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga kini belum menetapkan status kedaruratan bencana. Meski abu erupsi telah dirasakan di sejumlah wilayah dan berdampak terhadap aktivitas penerbangan, pemerintah masih melakukan pemantauan serta langkah antisipasi.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya dampak lanjutan dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“Sampai saat ini belum ada pemerintah daerah yang terdampak menetapkan status kedaruratan,” ujar Suharyanto.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak membuat pemerintah mengendurkan upaya mitigasi. BNPB tetap melakukan koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat diantisipasi, terutama apabila erupsi kembali meningkat.
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sendiri telah memberikan dampak terhadap sejumlah aktivitas masyarakat. Selain berpotensi mengganggu kesehatan akibat paparan abu, material vulkanik juga berdampak pada sektor transportasi udara.
Baca juga: Riset Roket hingga Drone Dunia Berkumpul di Yogyakarta, Ada Kompetisi Mahasiswa dari 26 Negara
Sejumlah penerbangan terdampak akibat kondisi tersebut. Sejumlah bandara juga sempat mengalami penutupan atau pembatasan operasional sebagai bagian dari langkah keselamatan penerbangan terkait potensi bahaya abu vulkanik.
BNPB Lakukan Modifikasi Cuaca
BNPB kini menyiapkan langkah lanjutan untuk membantu mengurangi sebaran abu vulkanik. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang akan dilakukan setelah kondisi dinilai cukup aman dan kondusif.
Suharyanto menjelaskan, pesawat untuk mendukung operasi tersebut telah disiapkan di Pondok Cabe. Pelaksanaan OMC diharapkan dapat membantu meluruhkan abu vulkanik yang masih berada di atmosfer maupun tersebar di sejumlah wilayah.
“Ketika kondisi lebih kondusif, kami akan melaksanakan OMC. Pesawat sudah siap di Pondok Cabe hari ini hingga malam nanti,” kata Suharyanto.
Baca juga: Gempa M5,9 Guncang Sumba Barat Daya, Rumah dan Sekolah Rusak
BNPB menyiapkan dua pendekatan dalam pelaksanaan modifikasi cuaca. Selain melalui penyemaian awan, teknik water-mist juga dipertimbangkan untuk membantu memicu hujan di wilayah Jakarta, Banten, dan Lampung.
Namun, pelaksanaan operasi tetap memperhatikan faktor keselamatan. Kondisi sejumlah bandara yang masih terdampak abu vulkanik menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan waktu dan metode pelaksanaan OMC.
Untuk membantu masyarakat yang terdampak, BNPB juga telah mendistribusikan sejumlah kebutuhan dasar, termasuk masker. Bantuan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.
Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau perkembangan aktivitas gunung api tersebut dan melakukan evaluasi secara berkala.
PVMBG menetapkan radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau sebagai kawasan yang harus dihindari. Penetapan zona tersebut mempertimbangkan sejumlah indikator aktivitas gunung, termasuk kondisi morfologi serta potensi jangkauan material vulkanik yang terlontar dari kawah.
Baca juga: Pemerintah Tambah 74 Ribu Ton Beras SPHP
BNPB meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta mengikuti arahan petugas dan tidak menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.