ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Empat tahun menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) membuat Mamaudou Sangare M.Pd tak hanya menguasai bahasa Indonesia. Mahasiswa asal Mali, Afrika, tersebut bahkan mampu berbicara menggunakan bahasa ngapak, bahasa khas masyarakat Banyumas.
Kecintaan Mamaudou terhadap Banyumas juga terlihat dari makanan dan tempat yang menjadi favoritnya selama tinggal di Purwokerto. Mendoan dan nasi padang menjadi dua kuliner yang paling ia sukai.
Usai mengikuti prosesi wisuda UMP pada Sabtu (3/10/2026), Mamaudou dengan santai menceritakan pengalamannya selama empat tahun tinggal dan menuntut ilmu di Purwokerto. Dengan logat ngapak yang cukup fasih, ia mengatakan salah satu kebiasaannya adalah menikmati kopi dan mendoan pada pagi hari.
“Aku senenge nek esuk ngopi karo mangan mendoan (red, Saya sukanya kalau pagi ngopi dan makan mendoan),” tuturnya dalam bahasa ngapak.
Mamaudou mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru ketika pertama kali datang dan mulai kuliah di UMP. Tinggal bersama teman-teman di rumah kos justru menjadi kesempatan baginya untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Banyumas. Dari lingkungan tersebut, ia belajar bahasa Indonesia sekaligus bahasa ngapak.
Baca juga: ABK KMN Barokah Anak Mas 03 Meninggal di Laut
Proses tersebut membuat kemampuan berbahasanya semakin berkembang. Setelah empat tahun tinggal di Purwokerto, Mamaudou kini mampu berbicara menggunakan bahasa ngapak dengan cukup fasih.
Kemampuannya berbahasa ngapak menjadi salah satu bukti bahwa pengalaman kuliah di UMP baginya bukan hanya tentang pendidikan di dalam kelas, tetapi juga tentang berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Suka Mendoan dan Nasi Padang
Selain bahasa dan budaya Banyumas, kuliner lokal juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman Mamaudou selama tinggal di Purwokerto. Mendoan menjadi salah satu makanan favoritnya. Ia bahkan menyebut menikmati mendoan sambil minum kopi sebagai salah satu kebiasaan yang ia sukai.
Namun, bukan hanya makanan khas Banyumas yang berhasil mencuri seleranya. Mamaudou juga mengaku sangat menyukai nasi padang. Menariknya, ia sebenarnya tidak terlalu menyukai makanan pedas. Meski demikian, cita rasa dan bumbu khas nasi padang membuatnya tetap menyukai kuliner tersebut.
Baca juga: Curanmor di Purwokerto Selatan Terungkap Kurang dari 1 Jam
“Suka nasi padang, tapi jangan yang pedas-pedas,” ucapnya.
Selama tinggal di Banyumas, Mamaudou tidak hanya menghabiskan waktu untuk kuliah dan belajar. Ia juga menyempatkan diri menjelajahi sejumlah tempat di wilayah tersebut. Salah satu lokasi yang cukup sering dikunjunginya saat akhir pekan adalah Kebun Raya Baturraden.
Menurut Mamaudou, suasana sejuk dan tenang di kawasan tersebut membuatnya nyaman untuk menghabiskan waktu, termasuk membaca buku.
“Di Kebun Raya Baturraden, suasananya sejuk dan tenang, sangat nyaman untuk membaca buku,” tuturnya.
Bagi mahasiswa yang datang dari Mali, pengalaman menikmati suasana alam Baturraden menjadi bagian tersendiri dari perjalanan hidupnya selama menempuh pendidikan di UMP. Empat tahun berada di Purwokerto meninggalkan banyak pengalaman bagi Mamaudou. Bukan hanya ilmu dan gelar akademik yang ia bawa setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga berbagai cerita tentang kehidupan di Indonesia.
Baca juga: Kebakaran Lahan Perhutani di Buayan Kebumen Meluas hingga 2 Hektare
Mamaudou mengatakan, jika suatu saat kembali ke negaranya, pengalaman selama kuliah di UMP dan tinggal di Banyumas akan menjadi cerita yang ia bagikan kepada orang-orang di Mali. Termasuk pengalaman mencicipi nasi padang, menikmati mendoan, minum kopi, hingga berbicara menggunakan bahasa ngapak.
Baginya, Indonesia bukan sekadar tempat untuk menempuh pendidikan. UMP dan Banyumas telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang memberinya pengalaman tentang budaya, persahabatan, kuliner, bahasa, dan kehidupan masyarakat Indonesia.
UMP Wisuda 2.413 Mahasiswa
Mamaudou Sangare merupakan salah satu dari 2.413 mahasiswa UMP yang mengikuti prosesi wisuda. Karena jumlah wisudawan cukup banyak, prosesi wisuda dilaksanakan selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, dengan pembagian berdasarkan fakultas.
Pada prosesi wisuda Sabtu, sebanyak 1.492 wisudawan mengikuti rangkaian wisuda. Mereka terdiri atas 137 lulusan Pascasarjana, 604 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), 33 lulusan Fakultas Ilmu Budaya dan Komunikasi (FIBK), 104 lulusan Fakultas Hukum (FH), 518 lulusan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), serta 96 lulusan Fakultas Kedokteran (FK).
Baca juga: 5 Cafe Kekinian yang Ramai di Purwokerto, Cocok untuk Nongkrong dan Ngopi
Sementara itu, pada prosesi wisuda Minggu (4/10/2026), UMP mewisuda 921 lulusan. Mereka terdiri atas 95 lulusan Fakultas Agama Islam (FAI), 231 lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), 167 lulusan Fakultas Teknik dan Sains (FTS), 81 lulusan Fakultas Pertanian dan Perikanan (FPP), 184 lulusan Fakultas Psikologi, dan 163 lulusan Fakultas Farmasi.
Dengan demikian, total mahasiswa yang mengikuti prosesi wisuda selama dua hari tersebut mencapai 2.413 orang dari berbagai jenjang pendidikan dan bidang keilmuan.
Di antara ribuan wisudawan tersebut, perjalanan Mamaudou Sangare menjadi cerita tersendiri. Datang dari Mali untuk menempuh pendidikan di UMP, ia justru menemukan rumah kedua di UMP, lengkap dengan bahasa ngapak, suasana Baturraden, secangkir kopi, nasi padang, dan sepiring mendoan. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.