Bullying di Sekolah Tak Bisa Dianggap Sepele, Edukasi Sejak Dini Jadi Kunci Pencegahan

Pendidikan
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Oct 19, 2026
Caption Foto : Ilustrasi

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Kasus perundungan atau bullying di sekolah tidak boleh dianggap sebagai kenakalan anak biasa. Ejekan, penghinaan, pengucilan, hingga kekerasan fisik dapat meninggalkan luka psikologis yang memengaruhi kepercayaan diri, prestasi belajar, bahkan kesehatan mental korban.

Karena itu, edukasi tentang bahaya bullying perlu diberikan sejak dini, baik kepada siswa, guru, maupun orang tua. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga harus menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan berinteraksi tanpa rasa takut.

Kenali Bentuk Bullying

Bullying tidak selalu berupa tindakan memukul atau melukai secara fisik. Perundungan juga bisa terjadi melalui kata-kata, tindakan sosial, hingga media digital.

Beberapa bentuk bullying yang perlu dikenali antara lain:

Baca juga: FK Unsoed Edukasi Pasien Diabetes di Purwokerto, Kenalkan Manfaat Kefir dan Tempe Fermentasi

  • Bullying verbal, seperti mengejek nama, menghina kondisi fisik, mengancam, atau melontarkan kata-kata yang merendahkan.

  • Bullying fisik, seperti memukul, menendang, mendorong, atau merusak barang milik teman.

  • Bullying sosial, seperti sengaja mengucilkan, mempermalukan, atau mengajak teman lain menjauhi seseorang.

  • Cyberbullying, yakni perundungan melalui media sosial, pesan digital, penyebaran foto, atau komentar yang menyakitkan.

Edukasi penting agar siswa memahami bahwa tindakan yang dianggap bercanda belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Jika dilakukan untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi, tindakan tersebut tidak boleh dinormalisasi.

Baca juga: Lantik 13 Dosen, UIN Saizu Tekankan Integritas dan Profesionalisme

Dampak Bullying Bisa Berlangsung Lama

Anak yang mengalami perundungan dapat merasa takut pergi ke sekolah, kehilangan rasa percaya diri, sulit berkonsentrasi, dan mengalami penurunan prestasi akademik.

Pada sebagian korban, pengalaman tersebut juga dapat memicu kecemasan, kesedihan berkepanjangan, menarik diri dari pergaulan, hingga gangguan kesehatan mental.

Dampaknya tidak hanya dirasakan korban. Anak yang melakukan bullying juga perlu mendapat pembinaan agar memahami konsekuensi perilakunya dan belajar membangun hubungan sosial yang sehat.

Sementara itu, siswa yang menyaksikan perundungan tanpa mengetahui cara membantu bisa merasa takut atau menganggap tindakan tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Baca juga: Polres Kebumen Buka Akses Informasi Sekolah Unggulan, Beasiswa 3 Tahun Jadi Daya Tarik

Peran Sekolah dan Orang Tua Sangat Penting

Pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan seluruh lingkungan pendidikan. Sekolah perlu memberikan pendidikan karakter, menanamkan empati, serta menjelaskan batasan perilaku yang dapat menyakiti orang lain.

Guru juga perlu peka terhadap perubahan perilaku siswa, seperti anak yang mendadak pendiam, enggan bergaul, sering tidak masuk sekolah, atau menunjukkan penurunan prestasi.

Di sisi lain, orang tua perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman ketika menceritakan pengalaman tidak menyenangkan. Anak juga perlu diajarkan untuk menghargai perbedaan, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Jika perundungan terjadi, sekolah harus menindaklanjuti laporan secara serius, melindungi korban dari tindakan balasan, serta melakukan penanganan yang sesuai terhadap anak yang terlibat.

Baca juga: UIN Saizu Gandeng Itjen Kemenag Benahi Tata Kelola PNBP

Ajarkan Anak Berani Melapor

Salah satu tujuan utama edukasi bullying adalah membuat siswa berani mencari pertolongan ketika mengalami atau menyaksikan perundungan.

Anak perlu mengetahui kepada siapa mereka bisa melapor, misalnya guru, wali kelas, guru bimbingan konseling, atau orang dewasa tepercaya. Mereka juga perlu memahami bahwa meminta bantuan bukan berarti mengadu secara berlebihan, melainkan langkah untuk mencegah situasi semakin buruk.

Sekolah dapat memperkuat upaya ini melalui diskusi kelas, simulasi penyelesaian konflik, kampanye antiperundungan, serta penyediaan saluran pengaduan yang aman.

Pada akhirnya, menghentikan bullying bukan hanya tanggung jawab korban atau guru, melainkan tugas bersama seluruh warga sekolah. Edukasi yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman, inklusif, dan menghargai setiap anak. (*)

Baca juga: Gus Ipul Ajak Siswa Sekolah Rakyat Tolak Bullying, Kekerasan, dan Intoleransi

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

■ ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: