Kemenkes Temukan 1,6 Juta Orang Terindikasi Gangguan Penglihatan dari Skrining CKG

Kesehatan
By Ariyani  —  On Oct 17, 2026
Caption Foto : Pemeriksaan mata melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).(Foto : Dok, Kemenkes).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menemukan sekitar 1,6 juta orang terindikasi mengalami gangguan penglihatan dari 34 juta orang yang telah menjalani pemeriksaan mata melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Temuan ini menjadi pengingat pentingnya pemeriksaan mata secara berkala untuk mencegah gangguan penglihatan yang berisiko menghambat aktivitas sehari-hari.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengatakan, deteksi dini merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mata sekaligus mencegah gangguan penglihatan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Menurut Dante, persoalan gangguan penglihatan masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat, baik di Indonesia maupun di tingkat global. Secara global, diperkirakan 1,1 miliar orang mengalami gangguan penglihatan yang belum tertangani. Sebanyak 90 persen kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah atau diobati.

“Jangan tunggu sampai mata kita terasa berat, kabur, atau menyakitkan. Jagalah organ pertama yang bekerja untuk kita setiap hari,” ujar Dante.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan mata. Pemeriksaan sejak dini diperlukan untuk mengetahui kondisi penglihatan dan menentukan penanganan yang sesuai apabila ditemukan gangguan.

Baca juga: Kemenkes Kirim 500 Ribu Masker per Provinsi dan Siapkan Rumah Oksigen

Empat Strategi Kemenkes Cegah Gangguan Penglihatan

Untuk memperluas pencegahan dan penanganan gangguan penglihatan, Kemenkes menyiapkan empat langkah strategis. Upaya tersebut meliputi penguatan skrining mata melalui program CKG, perluasan akses operasi katarak, pemerataan tenaga dokter spesialis mata, serta peningkatan edukasi kesehatan mata di sekolah dan tempat kerja.

Kemenkes juga menjalin koordinasi dengan BPJS Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI). Kerja sama ini diarahkan untuk mengatasi ketimpangan alokasi layanan operasi katarak di berbagai daerah agar masyarakat memiliki kesempatan lebih merata untuk memperoleh penanganan.

Selain memperkuat pelayanan medis, pemerintah mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam menjaga kesehatan mata, terutama di tengah tingginya penggunaan perangkat digital.

"Salah satu kebiasaan yang dianjurkan adalah menerapkan aturan 20-20-20. Caranya, setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter," terang Dante.

Baca juga: Olahraga Sebelum Sarapan, Benarkah Lebih Ampuh Membakar Lemak? Ini Faktanya

Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi kelelahan mata akibat penggunaan layar dalam waktu lama. Meski demikian, aturan ini tidak menggantikan pemeriksaan medis apabila muncul keluhan atau gangguan penglihatan. 

Temuan 1,6 juta orang yang terindikasi mengalami gangguan penglihatan dari skrining CKG menunjukkan pentingnya pemeriksaan mata sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. Penguatan deteksi dini, pemerataan tenaga medis, perluasan operasi katarak, serta penyediaan kacamata menjadi langkah penting agar semakin banyak masyarakat dapat memperoleh penanganan yang tepat.

Masyarakat pun diimbau untuk tidak mengabaikan perubahan penglihatan dan membiasakan pemeriksaan mata secara berkala. Deteksi dini menjadi salah satu kunci untuk menjaga kualitas penglihatan dan mendukung produktivitas dalam jangka panjang. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

■ ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: