ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Mendidik anak bukan sekadar mengajarkan sopan santun dan kepatuhan. Orang tua juga perlu membekali anak dengan kemampuan mengelola emosi, mengambil keputusan, menghadapi masalah, serta menghargai orang lain. Namun, dalam praktiknya, anak laki-laki dan perempuan kerap mendapat perlakuan berbeda sejak kecil.
Anak laki-laki sering dituntut berani, mandiri, dan tidak mudah menangis. Sementara itu, anak perempuan lebih sering diminta bersikap lembut, berhati-hati, dan menuruti perkataan orang tua.
Perbedaan pendekatan tersebut tidak selalu salah. Akan tetapi, jika didasarkan pada stereotip semata, pola asuh justru berisiko membatasi potensi anak. Anak laki-laki bisa kesulitan mengungkapkan perasaan, sedangkan anak perempuan mungkin tumbuh dengan rasa takut mengambil keputusan sendiri.
Lantas, bagaimana cara mendidik anak laki-laki dan perempuan agar tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab?
1. Anak Laki - laki Perlu Belajar Mengekspresikan Perasaan
Baca juga: Investasi Tanah atau Emas, Mana yang Lebih Menguntungkan? Ini Kelebihan dan Risikonya
Anggapan bahwa anak laki-laki harus selalu kuat masih banyak dijumpai dalam pola asuh keluarga. Ketika menangis, sebagian anak laki-laki justru diminta berhenti karena dianggap cengeng.
Padahal, menangis merupakan salah satu respons alami ketika seseorang merasa sedih, takut, kecewa, atau kesakitan.
Orang tua sebaiknya memberi ruang kepada anak laki-laki untuk mengenali dan mengungkapkan perasaannya. Ajarkan mereka menyampaikan kemarahan tanpa menyakiti orang lain serta meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Kemampuan mengelola emosi akan membantu anak membangun hubungan yang lebih sehat ketika beranjak dewasa.
2. Anak Perempuan Perlu Didorong Berani Mengambil Keputusan
Baca juga: Gempa Bumi Kerap Terjadi, Benarkah Cuaca Panas dan Perilaku Hewan Jadi Pertanda?
Anak perempuan terkadang dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu patuh, menjaga perasaan orang lain, dan menghindari konflik.
Mengajarkan sopan santun tentu penting. Namun, kepatuhan tidak seharusnya membuat anak takut menyampaikan pendapat atau menolak sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Orang tua dapat melatih keberanian anak perempuan dengan memberinya kesempatan memilih kegiatan, mengemukakan pendapat, dan menyelesaikan masalah sesuai usianya.
Anak juga perlu memahami bahwa bersikap baik bukan berarti harus selalu mengalah. Mereka berhak memiliki batasan, menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan, dan mempertahankan keputusan yang tepat.
3. Jangan Bedakan Tanggung Jawab di Rumah
Baca juga: Bukan Sekadar Hiburan, Ini 7 Manfaat Bermain Monopoli untuk Anak
Salah satu perbedaan pola asuh yang sering terjadi adalah pembagian pekerjaan rumah berdasarkan jenis kelamin.
Anak perempuan lebih sering diminta membantu memasak atau membersihkan rumah, sedangkan anak laki-laki dibebaskan dari pekerjaan tersebut.
Padahal, keterampilan mengurus diri dan lingkungan merupakan kebutuhan semua orang.
Berikan tugas rumah tangga kepada anak laki-laki maupun perempuan sesuai kemampuan mereka. Misalnya, merapikan tempat tidur, mencuci piring sendiri, membereskan mainan, atau membantu menyiapkan makanan.
Pembiasaan ini bukan hanya melatih kemandirian, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab dan kerja sama.
Baca juga: iPhone 18 Resmi Rilis, Ini Spesifikasi, Fitur Baru, dan Keunggulannya
4. Ajarkan Keberanian Tanpa Abaikan Keselamatan
Anak laki-laki sering didorong untuk berani mencoba berbagai hal, sementara anak perempuan cenderung lebih banyak dibatasi karena alasan keamanan.
Perlindungan memang penting, tetapi larangan yang berlebihan dapat menghambat kesempatan anak untuk belajar.
Orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada keduanya untuk mencoba kegiatan baru dengan mempertimbangkan usia, kemampuan, dan risiko yang ada.
Di sisi lain, anak laki-laki juga perlu diajarkan bahwa keberanian bukan berarti nekat. Mereka harus mampu mengenali bahaya, menghormati batasan orang lain, dan berani mengakui kesalahan.
Baca juga: Gagi UMR di Era Serba Mahal, Ini 5 Cara Mengatur Keuangan agar Tak Tekor di Akhir Bulan
5. Berikan Kebebasan Memilih Minat dan Bakat
Tidak semua anak laki-laki menyukai olahraga, dan tidak semua anak perempuan tertarik pada kegiatan seni atau aktivitas yang dianggap feminin.
Ketertarikan anak tidak selalu mengikuti anggapan masyarakat tentang laki-laki dan perempuan.
Karena itu, orang tua perlu memberikan kesempatan yang sama kepada anak untuk mengeksplorasi minatnya, baik dalam olahraga, seni, sains, teknologi, maupun bidang lainnya.
Dukungan yang tepat dapat membantu anak mengenali kemampuan diri, meningkatkan kepercayaan diri, dan mengembangkan potensi secara maksimal.
Baca juga: Bahaya Main HP Sebelum Tidur, Kebiasaan Sepele yang Bisa Bikin Tubuh Lelah saat Bangun
6. Terapkan Aturan yang Adil untuk Keduannya
Perbedaan pola asuh juga terlihat dalam penerapan aturan sehari-hari. Anak laki-laki terkadang diberi kebebasan lebih besar, sementara anak perempuan mendapat lebih banyak larangan.
Sebaliknya, ada pula keluarga yang memberikan tuntutan lebih tinggi kepada anak laki-laki agar selalu menjadi pelindung atau pencari nafkah di masa depan.
Orang tua perlu menghindari beban dan batasan yang tidak proporsional hanya karena jenis kelamin anak.
Aturan sebaiknya disesuaikan dengan usia, tingkat kematangan, kebutuhan, serta situasi yang dihadapi. Jelaskan alasan di balik aturan dan terapkan konsekuensi secara konsisten.
Dengan begitu, anak belajar memahami tanggung jawab, bukan sekadar takut terhadap hukuman.
Kebutuhan Anak Adalah Kunci Utama
Mendidik anak laki-laki dan perempuan tidak harus menggunakan dua pola asuh yang bertolak belakang. Keduanya membutuhkan kasih sayang, rasa aman, disiplin, kesempatan belajar, serta dukungan untuk mengembangkan kemampuan diri.
Hal yang perlu dibedakan adalah pendekatan berdasarkan karakter dan kebutuhan masing-masing anak. Ada anak yang membutuhkan dorongan untuk lebih berani, ada pula yang perlu dibantu agar lebih mampu mengendalikan diri.
Orang tua juga perlu memberikan teladan melalui perilaku sehari-hari. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari cara orang tua menyelesaikan konflik, memperlakukan pasangan, membagi tanggung jawab, dan menghargai orang lain.
Dengan pola asuh yang adil dan responsif, anak laki-laki maupun perempuan dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki empati, berani mengambil keputusan, dan mampu bertanggung jawab atas tindakannya. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.