ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Harga ayam dan telur di Indonesia menjadi sorotan pemerintah setelah muncul kesenjangan harga yang mencolok antara tingkat peternak dan konsumen. Peternak mengeluhkan harga jual yang rendah, sementara masyarakat justru harus mengeluarkan uang lebih besar untuk membeli kedua komoditas pangan tersebut. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, meminta dugaan permainan harga di sepanjang rantai distribusi ditelusuri bersama aparat penegak hukum.
Amran mengungkapkan adanya ketimpangan harga yang dinilai perlu segera ditangani. Menurut dia, persoalan tersebut membuat peternak dan konsumen sama-sama dirugikan, meskipun berada di sisi berbeda dalam rantai perdagangan.
“Ada yang menarik, inflasi telur ayam, inflasi ayam, inflasi beras, itu yang paling menonjol. Tiga ini menonjol, tapi lucu. Di harga di produsen, di bawah HPP yang ditentukan pemerintah. Jadi, karena harga rendah, peternaknya demo. Tapi dalam waktu bersamaan, konsumen juga berteriak,” ujar Amran.
Ia menjelaskan, harga ayam dan telur di tingkat produsen berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000, sedangkan harga yang dibayarkan konsumen dapat mencapai Rp40.000 sampai Rp45.000. Perbedaan tersebut menjadi perhatian pemerintah karena tingginya harga di tingkat pembeli tidak sejalan dengan keluhan peternak mengenai rendahnya harga jual.
Dugaan Permainan Harga Ditelusuri
Baca juga: Kemenkes Kirim 500 Ribu Masker per Provinsi dan Siapkan Rumah Oksigen
Amran menduga rantai distribusi menjadi salah satu faktor yang perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab kesenjangan harga tersebut. Ia menegaskan, pemerintah telah berkoordinasi dengan Kepolisian untuk menindaklanjuti dugaan praktik yang berpotensi merugikan peternak maupun masyarakat.
“Harganya Rp20.000, Rp21.000. Tetapi di konsumen bisa Rp40.000, Rp45.000. Middleman ini, ada yang memainkan harga. Kami sudah menyurat ke Pak Kapolri. Kami sudah sepakat, beliau, kalau kolaborasi, kita harus perangi,” tegasnya.
Menurut Amran, penanganan persoalan harga tidak cukup hanya dengan melihat kondisi produksi di tingkat peternak. Pemerintah juga perlu menelusuri proses distribusi hingga produk sampai ke tangan konsumen agar penyebab selisih harga dapat diketahui secara jelas.
Ia mengingatkan bahwa dugaan praktik yang merugikan pelaku usaha dan konsumen harus ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum.
“Ini tidak akan selesai kalau mafianya masih bercokol di tengah-tengah kita. Ini nggak bisa,” katanya.
Baca juga: Bansos PKH dan BPNT Kini Bisa Dicairkan di KDMP
Selain menyoroti distribusi, Amran menekankan kontribusi peternak dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. Ia menyebut Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan ayam dan telur, bahkan melakukan ekspor. Kondisi tersebut, menurut dia, perlu diikuti dengan tata niaga yang mendukung keberlangsungan usaha peternak sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Ini peternak berjibaku, siang malam tidak tidur, kerja berproduksi. Kita surplus, kita ekspor. Tapi harga dalam negeri naik melampau,” ujar Amran.
Pemerintah pun menghadapi dua persoalan yang perlu ditangani secara bersamaan, yakni menjaga agar peternak mendapatkan harga jual yang layak dan memastikan konsumen tidak terbebani harga pangan yang terlalu tinggi. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.