ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Mengunyah es batu saat minum es teh atau es kopi sering dianggap sebagai kebiasaan biasa. Namun, jika dilakukan berulang kali, kebiasaan ini bisa berujung pada gigi retak hingga nyeri rahang. Lebih dari itu, keinginan mengunyah es yang sulit dihentikan terkadang berkaitan dengan kekurangan zat besi.
Sensasi dingin dan bunyi renyah saat menggigit es batu memang bisa memberikan kepuasan tersendiri bagi sebagian orang. Bahkan, ada yang merasa minuman belum habis dinikmati sebelum seluruh es di dalam gelas dikunyah.
Meski terlihat sepele, gigi sebenarnya tidak dirancang untuk terus-menerus menghancurkan benda keras seperti es batu. Tekanan berulang saat menggigit dapat merusak lapisan pelindung gigi, terlebih jika terdapat tambalan atau retakan yang sebelumnya tidak disadari.
Lantas, apa saja dampak kebiasaan mengunyah es batu yang perlu diwaspadai?
Gigi Retak Bisa Berawal dari Kebiasaan Kecil
Baca juga: Kemenkes Kirim 500 Ribu Masker per Provinsi dan Siapkan Rumah Oksigen
Salah satu risiko utama mengunyah es batu adalah kerusakan struktur gigi. Tekanan kuat ketika gigi beradu dengan es yang keras dapat memicu retakan, bahkan menyebabkan sebagian gigi patah.
Masalahnya, kerusakan tidak selalu langsung terasa. Retakan kecil mungkin baru menimbulkan keluhan ketika seseorang mengunyah makanan, minum air dingin, atau merasakan tekanan pada gigi tertentu.
Jika kebiasaan ini terus dilakukan, kerusakan yang semula ringan berpotensi bertambah parah.
Gigi Ngilu Saat Minum Air Dingin
Kebiasaan menggigit es juga dapat memperburuk kondisi gigi yang sudah sensitif. Retakan pada gigi atau kerusakan lapisan enamel dapat membuat rangsangan dingin lebih mudah memicu rasa ngilu.
Baca juga: Cara Memulai Hidup Sehat dari Kebiasaan Sederhana
Keluhan ini tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat mengunyah es semata. Gigi sensitif juga dapat dipicu oleh gusi yang menyusut, karies, atau masalah gigi lainnya.
Jika rasa ngilu berulang, muncul nyeri ketika menggigit, atau berlangsung semakin lama, pemeriksaan dokter gigi diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Bagi orang yang memiliki tambalan atau mahkota gigi, kebiasaan mengunyah es batu bisa menambah risiko kerusakan pada bagian gigi yang telah dirawat.
Tekanan berulang dapat membuat tambalan mengalami kerusakan atau terlepas. Akibatnya, seseorang mungkin membutuhkan perawatan ulang untuk melindungi gigi dari kerusakan lebih lanjut.
Karena itu, menikmati minuman dingin sebaiknya dilakukan tanpa menggigit es batu di dalam gelas.
Baca juga: Kemenkes Temukan 1,6 Juta Orang Terindikasi Gangguan Penglihatan dari Skrining CKG
Penyebab Orang Suka Mengunyah Es Batu
Ada hal lain yang perlu diperhatikan ketika seseorang terus-menerus ingin mengunyah es batu, bahkan saat tidak sedang menikmati minuman dingin.
Dalam istilah medis, kebiasaan atau dorongan kuat untuk mengunyah es disebut pagophagia. Kondisi ini dapat berkaitan dengan kekurangan zat besi, termasuk pada orang yang mengalami anemia defisiensi besi.
Meski demikian, keinginan mengunyah es bukan bukti pasti bahwa seseorang mengalami anemia. Untuk mengetahui penyebabnya, diperlukan evaluasi medis dan, jika dinilai perlu, pemeriksaan darah.
Apabila kebiasaan tersebut sulit dikendalikan, terutama jika disertai tubuh mudah lelah, lemas, pucat, atau pusing, sebaiknya konsultasikan kepada tenaga medis.
Baca juga: Olahraga Sebelum Sarapan, Benarkah Lebih Ampuh Membakar Lemak? Ini Faktanya
Cara Hentikan Kebiasaan Mengunyah Es Batu
Menghentikan kebiasaan ini bisa dimulai dengan langkah sederhana. Biarkan es mencair di dalam minuman, pilih minuman dingin tanpa mengunyah es, dan perhatikan kapan dorongan tersebut biasanya muncul.
Jika kebiasaan mengunyah es terjadi hampir setiap hari dan sulit dihentikan, jangan hanya berusaha menghilangkan kebiasaannya. Pertimbangkan juga untuk memeriksakan diri agar kemungkinan penyebab medis dapat diketahui.
Pada akhirnya, menikmati minuman dingin tidak harus dengan menggigit es batu. Menghindari kebiasaan tersebut dapat membantu melindungi gigi, sedangkan dorongan mengunyah es yang terus berulang layak mendapat perhatian agar masalah kesehatan yang mendasarinya tidak terlewatkan. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.