ORBIT-NEWS.COM, KEBUMEN – Kebakaran lahan yang berulang di Kabupaten Kebumen sepanjang musim kemarau 2026 menunjukkan bahwa persoalan ini tidak semata-mata disebabkan kondisi cuaca yang panas dan kering. Faktor manusia, terutama kelalaian dan aktivitas pembakaran, turut menjadi pemicu yang membuat api mudah muncul dan kemudian meluas.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen bahkan secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak hanya menyalahkan musim kemarau atas meningkatnya kejadian kebakaran.
Dalam keterangannya, BPBD Kebumen mencatat hingga 23 September 2026 telah terjadi 32 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kejadian tersebut tersebar di 27 desa pada 11 kecamatan.
Kecamatan Kebumen tercatat menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni tujuh kali, disusul Sempor enam kejadian dan Karanggayam empat kejadian. Sementara Alian, Ayah, Pejagoan dan Buayan masing-masing tiga kejadian. Karanganyar, Petanahan, Sadang dan Rowokele masing-masing satu kejadian.
BPBD Kebumen menyebut kelalaian manusia menjadi salah satu faktor penting di balik rangkaian kebakaran tersebut. Aktivitas seperti membakar sampah secara sembarangan maupun membuka lahan dengan cara dibakar dapat menjadi sumber api, terlebih ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Baca juga: BAM DPR RI Soroti Risiko Bencana di Kebumen, Warga Diminta Tak Hanya Siaga Saat Darurat
Jangan Salahkan Kemarau
"Jangan cuma salahkan kemarau," menjadi pesan penting BPBD Kebumen. Sebab, meskipun musim kemarau membuat lahan lebih mudah terbakar, munculnya sumber api dalam sejumlah kejadian justru berkaitan dengan aktivitas manusia. Pola tersebut terlihat dari sejumlah kasus yang terjadi di lapangan.
Pada 9 Juli 2026, misalnya, dua kebakaran lahan terjadi dalam satu hari di Kecamatan Kebumen dan Pejagoan. BPBD mencatat aktivitas membakar sampah menjadi pemicu kebakaran yang kemudian nyaris mendekati permukiman warga.
Kasus serupa kembali terjadi di Desa Kemangguan, Kecamatan Alian, pada 20 September. BNPB menyebut kebakaran yang menghanguskan sekitar lima hektare lahan diduga bermula dari warga yang sedang membakar sampah. Api kemudian cepat membesar dan meluas karena kondisi cuaca kering serta hembusan angin yang cukup kencang. Data tersebut memperlihatkan bagaimana faktor manusia dan faktor alam saling memperkuat.
Membakar sampah pada kondisi lahan basah mungkin terlihat sebagai aktivitas yang terkendali. Namun, situasinya berbeda ketika dilakukan pada puncak musim kemarau. Rumput, semak, daun dan material organik di sekitar lokasi pembakaran berada dalam kondisi kering sehingga sangat mudah menjadi bahan bakar.
Baca juga: Pemkab Pemalang Evaluasi Kepala Sekolah Terkait Kasus Perundungan, Satgas Bullying Disiapkan
Ketika angin bertiup, api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menjalar ke area yang lebih luas. Karena itu, menyebut kemarau sebagai satu-satunya penyebab kebakaran justru berisiko mengabaikan faktor yang sebenarnya dapat dicegah. Kemarau memang tidak bisa dihentikan. Tetapi sumber api dari aktivitas manusia sebenarnya dapat dikurangi.
Hal inilah yang membuat imbauan BPBD Kebumen menjadi penting. Pencegahan kebakaran tidak cukup dilakukan dengan menyiagakan petugas pemadam ketika api sudah membesar. Pengendalian sumber api sejak awal harus menjadi bagian utama dari mitigasi.
Data BPBD menunjukkan persoalan tersebut sudah menyebar di banyak wilayah. Dari 32 kejadian karhutla hingga 23 September, lokasi kebakaran tersebar di 11 kecamatan. Ini berarti risiko kebakaran bukan hanya persoalan satu kawasan, melainkan ancaman yang muncul di berbagai wilayah Kebumen.
Risiko tersebut juga belum sepenuhnya berakhir memasuki Oktober. Pada awal bulan ini, kebakaran kembali terjadi di sejumlah wilayah Kebumen, termasuk kawasan Buayan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa selama lahan masih kering, potensi kebakaran tetap tinggi.
Karena itu, pencegahan perlu diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat. Larangan membakar sampah dan membuka lahan dengan api harus terus disosialisasikan, terutama di desa-desa yang berada dekat kawasan hutan, perbukitan dan lahan kering. Patroli di titik rawan juga perlu diperkuat. Begitu muncul asap atau titik api, penanganan sedini mungkin dapat mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar.
Baca juga: Dua Kebakaran Lahan Melanda Kebumen, 5,7 Hektare Terbakar dalam Sehari
Pada akhirnya, tingginya kejadian kebakaran di Kebumen tidak bisa hanya dibaca sebagai konsekuensi musim kemarau. Data BPBD justru menunjukkan adanya faktor manusia yang berulang. Kemarau menyediakan kondisi yang membuat api mudah menyala dan menyebar. Tetapi manusia sering kali menjadi pihak yang menyalakan sumber api pertama.
Karena itu, pesan BPBD Kebumen patut menjadi perhatian: jangan hanya menyalahkan kemarau. Sebab sebagian kebakaran sebenarnya dapat dicegah sebelum api muncul. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.