ORBIT-NEWS.COM, KEBUMEN – Kesiapsiagaan menghadapi bencana di Kabupaten Kebumen dinilai perlu diperkuat sejak sebelum bencana terjadi. Masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan penanganan ketika bencana sudah datang, tetapi juga perlu dibekali pengetahuan, edukasi, dan kemampuan untuk mengurangi risiko secara mandiri.
Wakil Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Taufiq R. Abdullah mengatakan, pola penanganan bencana harus bergeser dari sekadar respons setelah kejadian menuju langkah pencegahan dan peningkatan kapasitas masyarakat. Menurutnya, tingginya jumlah bencana di Indonesia menunjukkan bahwa kesiapsiagaan menjadi kebutuhan yang semakin penting. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 4.727 kejadian bencana sepanjang 2025. Sebanyak 99,26 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi.
Bencana tersebut tercatat menyebabkan 1.666 orang meninggal dunia dan lebih dari 12,1 juta warga harus mengungsi. Sementara itu, sejak awal 2026 hingga 22 April, BNPB telah mencatat 806 kejadian bencana, yang mayoritas juga berkaitan dengan ancaman hidrometeorologi.
Taufiq menilai masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai berbagai potensi ancaman bencana, termasuk risiko gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas megathrust di wilayah selatan Jawa.
"Informasi mengenai potensi risiko, seperti megathrust di kawasan pesisir selatan, harus kita tempatkan secara proporsional. Pengetahuan mengenai risiko bukan untuk menimbulkan kepanikan, tetapi justru untuk membangun kewaspadaan dan kesiapan masyarakat," kata Taufiq saat membuka Festival Aspirasi di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (5/10/2026).
Baca juga: Pemkab Pemalang Evaluasi Kepala Sekolah Terkait Kasus Perundungan, Satgas Bullying Disiapkan
Waspadai Ancaman Bencana
Menurut Taufiq, posisi geografis Kebumen membuat daerah tersebut memiliki beragam potensi ancaman bencana. Wilayah Kebumen membentang dari kawasan pegunungan hingga pesisir selatan Jawa sehingga memiliki karakter risiko yang berbeda-beda.
Ancaman yang perlu diantisipasi antara lain banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, gempa bumi, hingga tsunami yang berkaitan dengan potensi megathrust. Karena itu, edukasi kebencanaan dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan sebelum, ketika, maupun setelah bencana terjadi.
Kehadiran BAM DPR RI di Kebumen melalui Festival Aspirasi juga diarahkan untuk menyerap berbagai persoalan dan kebutuhan masyarakat terkait kesiapsiagaan bencana.
Taufiq mengatakan, forum tersebut bukan sekadar kegiatan pertemuan dengan masyarakat, tetapi menjadi ruang untuk mendengar langsung kondisi dan pengalaman warga di daerah.
Baca juga: Transformasi Limbah Kopi Menjadi Scrub, Inovasi Mahasiswa UIN Saizu Sabet Juara Nasional
"Festival aspirasi ini pada dasarnya merupakan bagian dari upaya BAM DPR RI untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Kami ingin melihat secara langsung berbagai persoalan yang berkembang di daerah, mendengarkan pengalaman masyarakat, memahami kebutuhan di lapangan, dan membawa aspirasi tersebut menjadi bahan penyusunan laporan maupun rekomendasi kebijakan," ujarnya.
Ia menegaskan, aspirasi dan masukan dari masyarakat daerah akan menjadi bagian penting dalam pembahasan di tingkat legislatif, terutama dalam mendorong kebijakan yang dapat memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.