ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Di tengah kemudahan teknologi dalam menyediakan informasi dan materi pembelajaran, peran guru dan dosen justru dituntut semakin kuat dalam membentuk karakter, cara berpikir, serta keberanian peserta didik.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam penutupan Inspiring Educators 2026 yang digelar ParagonCorp. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 6.000 pendidik dinyatakan lulus, terdiri dari 5.000 guru melalui Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan 1.000 dosen melalui Inspiring Lecturer Program (ILP).
Komisaris ParagonCorp, Salman Subakat mengatakan, kemajuan AI seharusnya tidak dipandang sebagai pengganti peran pendidik. Menurutnya, teknologi memang dapat membantu peserta didik memperoleh pengetahuan dengan cepat, tetapi pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih luas.
“AI bisa membantu murid mendapatkan knowledge. Tetapi pendidik membantu murid membangun cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang. Karena itu, saya justru percaya semakin AI berkembang, peran pendidik bukan semakin kecil, justru semakin penting,” kata Salman.
Pesan tersebut diperlihatkan secara langsung melalui demonstrasi AI di hadapan sekitar 1.000 guru, dosen, dan pegiat pendidikan yang hadir dalam acara tersebut.
Baca juga: Tak Lagi Sekadar Mimpi, Ajeng dari Kampung Sri Rahayu Kini Jadi Sarjana Berkat Beasiswa PSDK UMP
Salman memperlihatkan bagaimana AI dapat menyusun rancangan kurikulum selama enam bulan untuk siswa sekolah dasar di wilayah terdampak bencana. Teknologi tersebut bahkan dapat membantu membuat rencana pembelajaran, asesmen, hingga materi yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dalam waktu singkat.
Kemampuan AI yang semakin cepat tersebut, menurut Salman, memang dapat menimbulkan pertanyaan mengenai posisi guru di masa depan. Terlebih, pendidik juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga peserta didik yang semakin akrab dengan teknologi.
Namun, ia mengingatkan agar perubahan teknologi tidak membuat pendidik kehilangan kepercayaan terhadap perannya.
“Jangan sampai perubahan zaman maupun berbagai tantangan membuat seorang pendidik lupa betapa penting dirinya,” ujarnya.
Ketika Guru Memberikan Kepercayaan yang Diingat Puluhan Tahun
Baca juga: SPMB 2026 Jadi Sorotan DPR, 60 Ribu Kursi PTN Tak Terisi hingga Rencana Kuliah Gratis 2027
Salman kemudian menceritakan pengalaman yang membekas dalam perjalanan pendidikannya. Hampir tiga dekade lalu, guru Fisika SMA-nya, Yani Bayani, memberikan nilai 10 di rapor.
Bagi Salman, arti penting nilai tersebut bukan terletak pada angka yang tertulis di rapor. Ada kepercayaan yang membuatnya kemudian berani membantu teman-temannya belajar, mengikuti perlombaan mewakili sekolah, hingga melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Yang berkesan itu bukan karena angkanya. Tapi karena di balik angka itu ada sebuah pesan: saya percaya kamu bisa,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran bagaimana seorang pendidik dapat memberikan pengaruh yang jauh melampaui materi pelajaran. Kepercayaan, dorongan, dan inspirasi dari seorang guru dapat menjadi modal bagi siswa untuk berani mengembangkan potensinya.
Dalam konteks tersebut, ParagonCorp melihat teknologi sebagai alat yang dapat memperkuat proses pendidikan, sementara pendidik tetap memegang peran penting dalam mengarahkan pengetahuan menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Baca juga: 12 Mahasiswa Internasional Diwisuda, Bawa UMP Mendunia
WIT 2026 Masukkan Materi AI dan Berpikir Komputasional
Menghadapi perkembangan teknologi, program WIT 2026 tidak hanya berfokus pada pembelajaran berbasis proyek dan pendekatan yang berpusat pada murid.
Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai berpikir komputasional serta pemanfaatan AI dalam proses pembelajaran. Materi tersebut dirancang agar guru memiliki bekal untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus menggunakannya secara relevan dalam kegiatan belajar mengajar.
Antusiasme terhadap program ini terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 31.000 guru. Dari jumlah tersebut, 25.000 guru mengikuti program, sementara 10.000 peserta menjalankan proyek implementasi di sekolah dan 5.000 guru dinyatakan lulus.
Sementara itu, Inspiring Lecturer Program atau ILP 2026 diikuti 5.000 dosen. Sebanyak 1.000 dosen berhasil menyelesaikan rangkaian program yang berlangsung selama enam bulan.
Baca juga: Unsoed Salurkan Bantuan Air Bersih ke 84 Desa di Banyumas, Jangkau 21 Kecamatan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof. Abdul Mu'ti yang hadir dalam kegiatan tersebut menekankan bahwa pendidikan tidak sekadar aktivitas menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik. Menurutnya, guru perlu memiliki kecintaan terhadap murid sekaligus ilmu pengetahuan. Dari sana, pendidik dapat menjadi sosok yang memberikan inspirasi dan membuka jalan bagi peserta didik untuk berkembang.
“Kalau Bapak/Ibu ingin menjadi guru, jadilah orang yang cinta murid dan cinta ilmu. Mendidik itu adalah menginspirasi. Menginspirasi tidak harus menggurui,” kata Prof. Mu'ti.
Ia juga menempatkan guru sebagai pembelajar yang harus terus berkembang. Proses mengajar, menurutnya, juga menjadi kesempatan bagi pendidik untuk belajar bersama peserta didik.
“Guru adalah juga pembelajar, sehingga selama dia mengajar, dia juga harus menjadi murid di kelas itu, belajar bersama dengan murid-murid yang lainnya,” ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tetap perlu berjalan beriringan dengan keterlibatan manusia. AI dapat membantu menyediakan informasi, tetapi proses membangun rasa ingin tahu, keterlibatan, karakter, dan kemampuan menggunakan pengetahuan tetap membutuhkan interaksi dalam proses pendidikan.
Baca juga: 4 Tahun Kuliah di UMP, Wisudawan Asal Mali Ini Fasih Ngapak dan Jatuh Hati pada Mendoan
Pentingnya peran guru juga disampaikan Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011–2014. Dalam pandangannya mengenai pembangunan sumber daya manusia, guru memiliki posisi penting dalam menumbuhkan imajinasi, ambisi, dan kemungkinan bagi peserta didik.
“Saya agak percaya dengan kurikulum sebanyak saya percaya dengan guru. Saya enggak percaya dengan teknologi sebanyak saya percaya dengan guru,” ujar Gita.
Menurutnya, pendidik yang memiliki kapasitas kuat dapat memberikan pengaruh besar kepada siswa, bahkan ketika didukung dengan keterbatasan teknologi maupun perangkat pembelajaran.
Pemikiran tersebut sejalan dengan perhatian ParagonCorp terhadap pengembangan kualitas pendidik. Dukungan terhadap guru dan dosen tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan mengajar, tetapi juga memberikan ruang untuk belajar, bereksperimen, berbagi pengalaman, serta mengembangkan praktik baik.
Program Wardah Inspiring Teacher memiliki perjalanan yang cukup panjang. WIT pertama kali digelar pada 2017 di Yogyakarta dan saat itu hanya diikuti 30 guru. Seiring waktu, program tersebut berkembang hingga pada 2026 telah membersamai lebih dari 36.000 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.
Baca juga: Mengenang Kevin Duta Justisia, Wisudawan UMP yang Berpulang Sebelum Kenakan Toga
ParagonCorp kemudian memperluas perhatian ke pendidikan tinggi melalui Inspiring Lecturer Program yang dimulai pada 2021. Hingga 2026, ILP telah menjangkau lebih dari 7.000 dosen.
Jika digabungkan, WIT dan ILP telah menjangkau lebih dari 43.000 guru dan dosen yang tersebar di 38 provinsi. Ekosistem program juga telah terhubung dengan lebih dari 10.000 sekolah, universitas, dan institusi pendidikan di Indonesia.
Bagi ParagonCorp, jumlah tersebut bukan sekadar capaian program. Dampak yang diharapkan justru muncul ketika pendidik membawa pengalaman yang diperoleh selama program kembali ke sekolah, kampus, dan komunitasnya masing-masing. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.