ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS — Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi, media sosial tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga menjadi arena pertukaran gagasan, budaya hingga nilai-nilai kehidupan berbangsa.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Desa Pancasan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Mengangkat tema “Peran Pemuda di Era Digital dalam Membumikan Pancasila”, kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai unsur masyarakat. Di antaranya generasi muda, pengurus organisasi kepemudaan, perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga pegiat media dan sosial di Banyumas, Selasa (15/9/2026).
Anggota MPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII, H. Wastam SE. SH. MH menjadi salah satu narasumber utama. Dari perspektif hukum dan ketatanegaraan, ia menekankan bahwa Pancasila perlu dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika masyarakat beraktivitas di ruang digital.
Menurut Wastam, Pancasila tidak cukup hanya dipahami sebagai slogan atau teks yang dihafalkan. Nilai-nilainya perlu diterapkan sebagai pedoman dalam bersikap dan berinteraksi, termasuk saat menggunakan media sosial. Ia menilai pemuda memiliki posisi penting karena menjadi salah satu kelompok yang paling aktif memanfaatkan teknologi digital. Karena itu, nilai persatuan, toleransi dan keadilan sosial perlu menjadi bagian dari perilaku generasi muda di dunia maya.
Empat Pilar MPR RI yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika juga dinilai dapat menjadi landasan dalam menghadapi berbagai tantangan digital. Terutama untuk menghadapi penyebaran disinformasi, provokasi, ujaran yang memecah belah, hingga polarisasi yang kerap muncul di media sosial.
Baca juga: Kebun Raya Baturraden, Wisata Alam di Lereng Gunung Slamet dengan Pemandangan Memukau
Pengurus Karang Taruna Kabupaten Banyumas, Masum memaparkan terkait organisasi kepemudaan yang memiliki ruang luas untuk menerjemahkan nilai Pancasila menjadi kegiatan nyata yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Menurutnya, pemuda tidak harus menyampaikan nilai-nilai kebangsaan dengan cara yang kaku. Sebaliknya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat pesan kebangsaan lebih kreatif dan mudah diterima.
Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain membuat konten edukatif, memperkuat literasi digital untuk menangkal hoaks, mengembangkan ekonomi kreatif berbasis teknologi, serta membangun gerakan kemanusiaan melalui platform digital.
Masum juga menilai gerakan tersebut dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni desa. Energi dan kreativitas anak muda di ruang digital dapat diarahkan untuk membangun kolaborasi serta kegiatan produktif di masyarakat.
Baca juga: 48 Siswa SD Kalipagu Belajar Keselamatan Kereta Api di Ajang KAI Mengajar
Bahas Generasi Alpha hingga Cyberbullying
Diskusi semakin menarik ketika peserta diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan kepada para narasumber. Tokoh masyarakat setempat, Supriyatno menanyakan strategi menanamkan nilai Pancasila kepada generasi Alpha yang sejak kecil sudah akrab dengan teknologi.
Menanggapi hal tersebut, Wastam menekankan pentingnya menyesuaikan metode pendidikan dengan karakter generasi yang tumbuh di era digital.
Penyampaian nilai-nilai kebangsaan, menurutnya, dapat dilakukan melalui media yang lebih interaktif dan visual. Keteladanan juga menjadi bagian penting agar Pancasila tidak hanya dipahami secara teori, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Dua Dosen UIN Saizu Purwokerto Mengajar di Filipina, Perkuat Jejaring Akademik Asia Tenggara
Pertanyaan lain datang dari Mas Agus, tokoh pemuda Pancasan. Ia menyoroti bagaimana cara membuat kampanye nilai-nilai Pancasila di media sosial agar tidak dianggap kaku atau terlalu doktriner oleh generasi milenial dan Gen Z.
Masum menjelaskan, pemuda perlu menggunakan bahasa serta medium yang dekat dengan keseharian mereka. Infografis, video pendek, podcast hingga konten yang dikaitkan dengan olahraga, musik dan kewirausahaan sosial dapat menjadi sarana menyampaikan pesan Pancasila. (*)
Sementara itu, Parinah dari Kemranjen, seorang paralegal dan pegiat isu perempuan di Banyumas, mengangkat persoalan perlindungan perempuan dan anak di ruang digital.
Ia mempertanyakan bagaimana pemuda dapat ikut mengawal penerapan sila kelima Pancasila, khususnya dalam menghadapi perundungan siber atau cyberbullying.
Masum menjelaskan, pemuda dapat mengambil peran sebagai pelopor terciptanya ruang digital yang aman. Nilai kemanusiaan dan budaya saling menghormati perlu diterapkan dalam setiap interaksi di media sosial.
Baca juga: Miris! Guru Agama Non-ASN Puluhan Tahun Mengabdi, Insentif Hanya Rp300 Ribu
Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat masyarakat semakin mudah melakukan kekerasan verbal maupun perundungan. Sebaliknya, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk membangun solidaritas dan saling memberikan perlindungan. Penerapan nilai Pancasila di era digital tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Generasi muda, organisasi kepemudaan, masyarakat, serta berbagai kelompok lainnya memiliki peran dalam menciptakan ruang digital yang sehat.
Pemuda Banyumas pun didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan konten positif, memperkuat toleransi, mengembangkan kreativitas, sekaligus menggerakkan kegiatan sosial.
Dengan literasi digital yang baik, organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna dapat menjadi salah satu penggerak dalam menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, membumikan Pancasila di era digital bukan sekadar mengunggah pesan kebangsaan di media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai persatuan, kemanusiaan, toleransi dan keadilan diwujudkan dalam perilaku nyata, termasuk ketika berinteraksi di dunia maya. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.