ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS — Jejak sejarah lahirnya Kabupaten Banyumas akan tersaji di atas panggung melalui Pentas Wayang Babad Banyumas dalam Festival Babad Banyumas, Sabtu, 27 September 2026. Kisah tentang Adipati Mrapat hingga perpindahan pusat pemerintahan dari Wirasaba ke Banyumas menjadi cerita utama yang akan dibawakan.
Pentas berlangsung di Lapangan Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, mulai pukul 19.30 WIB. Dalang muda Ki Ulum Karto Diwiryo, lulusan ISI Surakarta asal Sumpiuh, dipercaya membawakan lakon tersebut.
Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya, Wayang Babad Banyumas mengambil cerita dari sejarah lokal yang bersumber dari naskah-naskah Babad Banyumas.
Budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun atau Kang Nass, turut mengembangkan wayang dan cerita yang akan dipentaskan.
Dari Wirasaba Menuju Banyumas
Baca juga: Transformasi Limbah Kopi Menjadi Scrub, Inovasi Mahasiswa UIN Saizu Sabet Juara Nasional
Lakon yang dibawakan mengisahkan Raden Jaka Kaiman yang diangkat Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya, sebagai Adipati Wirasaba dengan gelar Adipati Warga Hutama II.
Dalam perjalanan kepemimpinannya, Adipati Warga Hutama II membagi wilayah Wirasaba menjadi empat bagian untuk para adik iparnya.
Pembagian tersebut kemudian membuatnya dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat. Istilah itu berasal dari mara papat, yang berarti membagi menjadi empat.
Setelah pembagian wilayah, pusat pemerintahan Wirasaba kemudian dipindahkan ke wilayah yang kelak berkembang menjadi Banyumas.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kisah terbentuknya Kabupaten Banyumas.
Baca juga: ABK KMN Barokah Anak Mas 03 Meninggal di Laut
Kisah Petunjuk Sang Adipati
Alasan pemindahan pusat pemerintahan tersebut juga menjadi bagian menarik yang diangkat dalam pentas.
Kang Nass menjelaskan, kisah itu tercatat dalam Babad Banyumas Mertadiredjan, naskah yang ditulis atas perintah Adipati Mertadiredja I, Bupati Banyumas ke-13.
Dalam naskah tersebut dikisahkan Adipati Mrapat mendapat petunjuk dari Raden Baribin mengenai kondisi Wirasaba. Disebutkan, kejayaan Wirasaba telah berakhir sehingga pusat pemerintahan harus dipindahkan agar kejayaan dapat berlanjut.
Petunjuk tersebut mengarahkan perpindahan ke wilayah barat laut Desa Kejawar, tempat yang disebut ditandai dengan pohon Tembaga.
Baca juga: Curanmor di Purwokerto Selatan Terungkap Kurang dari 1 Jam
“Dalam Babad Banyumas Mertadiredjan ditulis dengan jelas dua alasan kepindahan dari Wirasaba ke Banyumas. Bermula ketika Adipati Mrapat mendapat petunjuk dari kakeknya, Raden Baribin tentang kejayaan Wirasaba yang telah berakhir. Dan, cara agar kejayaan berlanjut adalah dengan memindah ibukota,” ujar Kang Nass.
Sejarah Tak Berhenti di Naskah
Menurut Kang Nass, pementasan Wayang Babad Banyumas menjadi salah satu cara untuk membuat kisah sejarah lokal lebih dekat dengan masyarakat.
Naskah Babad Banyumas yang telah berusia ratusan tahun tidak selalu mudah diakses atau dibaca masyarakat. Melalui wayang, kisah tersebut dapat disampaikan dalam bentuk pertunjukan yang lebih menarik sekaligus menghibur.
Kang Nass berharap masyarakat tidak hanya mengenal Banyumas dari nama dan hari jadinya, tetapi juga memahami perjalanan sejarah yang membentuk daerah tersebut.
Baca juga: Kebakaran Lahan Perhutani di Buayan Kebumen Meluas hingga 2 Hektare
“Dengan pementasan Wayang Babad Banyumas saya berharap kisah-kisah Babad Banyumas bisa dikenali lagi. Walau tidak membaca naskahnya, namun mengetahui sejarahnya,” katanya.
Pentas Wayang Babad Banyumas pun menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah Banyumas melalui kesenian, sekaligus mengenalkan kisah leluhur kepada generasi yang lebih muda. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.