ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Tradisi Begalan bukan sekadar pertunjukan dalam pesta pernikahan masyarakat Banyumas. Di balik dialog dan perlengkapan rumah tangga yang dibawakan para pemain, tersimpan pitutur luhur tentang kehidupan berumah tangga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Upaya menjaga warisan budaya tersebut kini dikembangkan dalam sebuah pertunjukan bertajuk “Begalan Jaka Kaiman”.
Pementasan ini tidak hanya mengangkat tradisi Begalan, tetapi juga mempertemukan dua kesenian Banyumas yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Keduanya adalah Begalan yang ditetapkan sebagai WBTB oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2018 serta Gubrag Lesung yang mendapatkan penetapan pada 2020.
Pementasan “Begalan Jaka Kaiman” digagas budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun atau yang akrab disapa Kang Nass. Ia mengangkat kisah awal tradisi Begalan sekaligus memasukkan kembali bunyi lesung dalam sebuah pertunjukan budaya. Berdasarkan penelusurannya terhadap sejumlah naskah Babad Banyumas, Kang Nass menemukan kisah yang mengaitkan awal tradisi Begalan dengan pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman.
“Sepertinya belum banyak yang tahu sejarah awal mula adanya tradisi Begalan di Banyumas. Setelah saya baca naskah-naskah Babad Banyumas, ternyata bermula dari pernikahan anak sulung Raden Jaka Kaiman. Akhirnya, saya angkat menjadi sebuah pagelaran,” ungkap Kang Nass, Sabtu (19/9/2026).
Dalam tradisi masyarakat Banyumas, Begalan biasanya menjadi bagian dari upacara pernikahan tertentu, antara lain ketika pasangan pengantin merupakan anak sulung dengan anak sulung, anak bungsu dengan anak bungsu, maupun anak sulung dengan anak bungsu.
Baca juga: Transformasi Limbah Kopi Menjadi Scrub, Inovasi Mahasiswa UIN Saizu Sabet Juara Nasional
Pertunjukan Begalan sarat dengan pesan kehidupan. Berbagai peralatan rumah tangga yang dibawa dalam pementasan menjadi simbol yang digunakan untuk menyampaikan nasihat kepada pasangan pengantin sebagai bekal menjalani kehidupan setelah menikah.
Tradisi Gubrag Lesung yang Nyaris Hilang
Namun, tidak demikian dengan Gubrag Lesung. Kesenian yang lahir dari kehidupan masyarakat agraris Banyumas ini justru semakin jarang dimainkan. Pada masa lalu, lesung dan alu merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat desa. Sebelum mesin penggiling padi digunakan secara luas, lesung dimanfaatkan untuk menumbuk padi menjadi beras, termasuk mengolah beras menjadi tepung.
Aktivitas menumbuk padi tersebut kemudian melahirkan irama khas. Bunyi alu yang beradu dengan lesung menghasilkan suara beraturan yang dipadukan dengan dendangan para petani. Dari aktivitas sederhana itu lahirlah Gubrag Lesung sebagai hiburan sekaligus pelepas lelah setelah bekerja di sawah.
Masuknya mesin penggiling padi sekitar dekade 1980-an membuat fungsi lesung semakin ditinggalkan. Banyak lesung kemudian dihancurkan, dijadikan kayu bakar, atau dimanfaatkan untuk keperluan lain karena dianggap sudah tidak memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: ABK KMN Barokah Anak Mas 03 Meninggal di Laut
Kondisi tersebut membuat keberadaan Gubrag Lesung semakin terancam. Jika dulu hampir setiap keluarga memiliki lesung, kini perangkat kesenian tersebut semakin sulit ditemukan.
Keprihatinan itulah yang mendorong Kang Nass melakukan upaya penyelamatan sejak 2019. Ia berkeliling ke sejumlah desa di Banyumas, Cilacap, hingga Kebumen untuk mencari lesung yang masih tersisa.
Dari penelusuran tersebut, ia berhasil menemukan tiga buah lesung. Peralatan itu kemudian kembali dimainkan bersama warga sekitar hingga terbentuk kelompok Gubrag Lesung bernama Pangastawa. Nama Pangastawa diambil dari bahasa Jawa Kawi yang dimaknai sebagai berdoa, memohon, dan berharap.
“Dengan nama Pangastawa sebenarnya saya sedang mengajak para pelakunya untuk terus berdoa, memohon, dan berharap datangnya kebaikan dan kebahagiaan,” jelas Kang Nass.
Menurutnya, Gubrag Lesung memiliki pesan yang tetap relevan meski zaman telah berubah. Jika dahulu kesenian tersebut dimainkan untuk mengusir lelah setelah bekerja di sawah, kini Gubrag Lesung dapat menjadi hiburan sekaligus ruang untuk menyampaikan pesan kehidupan.
Baca juga: Curanmor di Purwokerto Selatan Terungkap Kurang dari 1 Jam
“Kalau dulu Gubrag Lesung dimainkan untuk melepas lelah setelah bekerja di sawah, sekarang menjadi hiburan di tengah himpitan beban kehidupan. Kalau Begalan berisi pitutur luhur para leluhur untuk mereka yang baru menikah, Gubrag Lesung berisi nasihat-nasihat kehidupan setelah berumah tangga,” katanya.
Melalui “Begalan Jaka Kaiman”, Kang Nass ingin mempertemukan kembali dua kesenian yang memiliki karakter berbeda, tetapi sama-sama menyimpan pesan kehidupan masyarakat Banyumas. Ia menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Pengakuan tersebut harus diikuti dengan upaya nyata agar kesenian tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.
“Saya ingin Gubrag Lesung kembali mengalun merdu. Agar tidak sia-sia pengakuan yang telah didapatkan dari pemerintah. Juga supaya tidak sekadar bangga mendapatkan pengakuan, namun tidak dilanjutkan dengan langkah nyata pelestariannya,” ujarnya.
Pementasan “Begalan Jaka Kaiman” dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, (26/9/2026), sebagai bagian dari rangkaian Festival Babad Banyumas. Pertunjukan tersebut akan digelar di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, yang juga merupakan kampung halaman Kang Nass.
Melalui pementasan ini, ia berharap masyarakat Banyumas tidak hanya mengenal Begalan sebagai tradisi dalam pernikahan, tetapi juga memahami sejarah, pesan, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Pada saat yang sama, Gubrag Lesung diharapkan kembali memperoleh ruang di tengah masyarakat sehingga tidak berhenti sebagai warisan budaya yang hanya tercatat dalam daftar WBTB.
Baca juga: Kebakaran Lahan Perhutani di Buayan Kebumen Meluas hingga 2 Hektare
Kang Nass mengajak masyarakat Banyumas ikut mengambil bagian dalam menjaga kesenian tradisional agar tetap hidup, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Pelestarian budaya bukan hanya tentang menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga memastikan suara, cerita, dan nilai-nilai leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat masa kini. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.