ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Kisah perjalanan leluhur Banyumas yang selama ini tersimpan dalam naskah kuno akan dihidupkan kembali melalui pertunjukan Wayang Babad Banyumas. Cara ini diharapkan membuat sejarah Banyumas lebih mudah dikenal masyarakat tanpa harus terlebih dahulu menguasai aksara Jawa maupun tembang Macapat.
Gagasan tersebut digagas budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun atau yang akrab disapa Kang Nass. Ia berupaya mengubah cara masyarakat menikmati Babad Banyumas, dari semula mengandalkan naskah tertulis menjadi kisah yang dapat disaksikan secara langsung melalui seni pertunjukan wayang kulit.
Kang Nass mengatakan, gagasan tersebut muncul setelah berbagai upaya untuk membuat naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan” lebih mudah dibaca belum sepenuhnya mampu menarik minat masyarakat. Menurutnya, pertunjukan menjadi salah satu cara yang memungkinkan kisah sejarah Banyumas dapat diterima oleh lebih banyak orang.
“Saya ingin pentas Wayang Babad Banyumas menggunakan wayang kulit sendiri. Maksudnya bukan wayang pinjaman dari wayang purwa. Makanya saya menyusun buku Wayang Babad Banyumas. Buku yang berisi rancangan tokoh dan kisah wayang hasil imajenasi saya,” ungkap Kang Nass, Rabu (16/9/2026).
Naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan” sendiri memiliki tantangan tersendiri untuk dipahami. Naskah tersebut ditulis dalam huruf Jawa dan menggunakan bentuk tembang Macapat, sehingga pembaca harus memiliki kemampuan membaca aksara Jawa sekaligus memahami aturan dan lagu dalam tembang tersebut.
Baca juga: ABK KMN Barokah Anak Mas 03 Meninggal di Laut
Selain menggunakan bahasa Jawa yang bersifat sastrawi, susunan kata dalam tembang juga mengikuti aturan Macapat. Kondisi inilah yang membuat isi Babad Banyumas Mertadiredjan tidak mudah dibaca oleh masyarakat umum, khususnya generasi yang sudah jarang bersentuhan dengan aksara Jawa.
Kang Nass sebelumnya telah melakukan sejumlah langkah agar naskah tersebut lebih mudah diakses. Aksara Jawa dialihaksarakan ke huruf Latin, kemudian bahasa Jawa diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan disadur menjadi cerita yang lebih mudah dipahami. Hasil terjemahan tersebut juga dibagikan secara gratis melalui situs babadbanyumas.com. Namun, upaya tersebut menghadapi persoalan lain, yakni masih rendahnya minat masyarakat untuk membaca.
Kondisi tersebut mendorong Kang Nass mencari media alternatif. Ia teringat pada masa ketika dirinya masih kecil pada era 1980-an, saat cerita-cerita Babad Banyumas kerap dipentaskan melalui ketoprak tobong. Pada waktu itu, masyarakat dapat mengenal sejarah Banyumas melalui tontonan. Mereka tidak harus membaca naskah Babad Banyumas untuk mengetahui kisah para tokoh dan perjalanan sejarah daerahnya. Dari pengalaman itulah muncul gagasan menghadirkan Babad Banyumas dalam bentuk wayang. Format ini dinilai lebih memungkinkan untuk dikembangkan dibandingkan pertunjukan ketoprak yang membutuhkan banyak pemain dan kelompok pengiring.
Untuk menyiapkan Wayang Babad Banyumas, Kang Nass mendata sekitar 100 tokoh yang terdapat dalam naskah “Babad Banyumas Mertadiredjan”. Setiap tokoh dipelajari berdasarkan nama, karakter, serta jabatan yang dimilikinya dalam rangkaian cerita. Tokoh-tokoh tersebut kemudian dibuatkan rancangan khusus untuk diwujudkan sebagai wayang kulit.
Rancangan itu dituangkan Kang Nass dalam buku “Wayang Babad Banyumas”. Dari rancangan tersebut, satu per satu tokoh kemudian diwujudkan menjadi peraga wayang kulit yang secara khusus digunakan dalam pementasan Babad Banyumas. Dengan hadirnya karakter wayang yang dirancang berdasarkan tokoh-tokoh dalam naskah, pementasan Wayang Babad Banyumas tidak menggunakan tokoh wayang purwa sebagai pengganti karakter sejarah Banyumas.
Baca juga: Curanmor di Purwokerto Selatan Terungkap Kurang dari 1 Jam
Angkat Kisah Perpindahan Wirasaba ke Kejawar
Pementasan yang dipersiapkan pada akhir September 2026 akan mengangkat salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah Banyumas, yakni kisah perpindahan Kabupaten Wirasaba ke Kejawar yang menjadi bagian dari awal mula berdirinya Kabupaten Banyumas.
“Akhir bulan September ini saya akan mementaskan Wayang Babad Banyumas. Mengambil kisah pindahnya Kabupaten Wirasaba ke Kejawar yang menjadi awal mula berdirinya Kabupaten Banyumas,” tutur Kang Nass.
Pertunjukan tersebut akan dibawakan oleh Ki Dalang Ulum Kartodiwiryo, dalang muda asal Sumpiuh, Banyumas. Ia dikenal sebagai kreator Wayang Sandekala. Pementasan Wayang Babad Banyumas menjadi bagian dari rangkaian “Festival Babad Banyumas” yang diselenggarakan Bale Babad Banyumas bersama Yayasan Bale Pustaka Cahaya.
Festival tersebut akan digelar pada Sabtu, 26 September 2026, mulai pukul 19.30 WIB. Selain Wayang Babad Banyumas, acara juga akan menghadirkan Gubrag Lesung, Begalan, serta kesenian Kentongan.
Baca juga: Kebakaran Lahan Perhutani di Buayan Kebumen Meluas hingga 2 Hektare
Melalui pertunjukan tersebut, Kang Nass berharap Babad Banyumas tidak hanya menjadi bacaan yang tersimpan dalam naskah, tetapi kembali dikenal dan dinikmati masyarakat.
“Semoga dengan pementasan Wayang Babad Banyumas, kisah-kisah leluhur Banyumas semakin tersebar. Tidak ada lagi orang yang tidak tahu cerita rakyat Banyumas, hanya karena tidak bisa membaca naskah Babad Banyumas. Cukup dengan menonton pementasan saja. Karena dalam kisah leluhur terdapat ajaran keluhuran yang bisa menjadi teladan,” tambah Kang Nass. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.