Inflasi Purwokerto dan Cilacap Terkendali, BI Soroti Penurunan Harga Cabai hingga Telur

Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Harga pangan yang mulai turun menjadi salah satu faktor penting yang membuat inflasi di wilayah Banyumas Raya tetap terkendali. Pada Juli 2026, Purwokerto dan Cilacap bahkan sama-sama mencatat deflasi secara bulanan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Aswin Gantina mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan perkembangan inflasi di wilayah Banyumas Raya masih berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Purwokerto pada Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi Purwokerto tercatat sebesar 2,66 persen atau year on year (yoy).

“Perkembangan inflasi di Purwokerto dan Cilacap masih terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen,” kata Aswin Gantina, (3/8/2026).

Di Cilacap, deflasi bulanan pada Juli 2026 tercatat sebesar 0,06 persen, dengan inflasi tahunan mencapai 2,44 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Juni 2026, ketika Cilacap mengalami inflasi 0,10 persen secara bulanan dan 2,88 persen secara tahunan.

Baca juga: ABK KMN Barokah Anak Mas 03 Meninggal di Laut

Penopang Utama Deflasi Bahan Pangan

Menurut Aswin, salah satu penopang utama deflasi di kedua wilayah tersebut berasal dari kelompok bahan pangan. Harga bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit mengalami penurunan seiring meningkatnya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi yang memasuki masa panen.

Penurunan harga juga terjadi pada telur ayam ras. Pasokan yang relatif memadai, sementara permintaan masyarakat masih stabil, membuat harga komoditas tersebut melanjutkan tren penurunan.

Selain bahan pangan, turunnya harga emas perhiasan turut memberikan andil terhadap deflasi. Penurunan tersebut berkaitan dengan pelemahan harga emas di pasar global.

Meski demikian, tekanan penurunan harga belum sepenuhnya membuat deflasi di Purwokerto dan Cilacap lebih dalam. Harga bensin masih meningkat dan memberikan efek lanjutan terhadap biaya angkutan serta distribusi barang.

Baca juga: Curanmor di Purwokerto Selatan Terungkap Kurang dari 1 Jam

Kenaikan harga telepon seluler juga ikut menahan laju deflasi karena permintaan masyarakat terhadap perangkat komunikasi masih cukup kuat.

Jika dibandingkan dengan wilayah lain, deflasi Purwokerto dan Cilacap pada Juli 2026 memang relatif lebih tipis. Secara nasional, deflasi tercatat sebesar 0,14 persen secara bulanan dengan inflasi tahunan 2,88 persen.

Sementara itu, Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dengan inflasi tahunan 2,60 persen. Dari sisi kelompok pengeluaran, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi sumber utama deflasi di Banyumas Raya.

Di Purwokerto, kelompok tersebut mengalami deflasi sebesar 1,10 persen dengan andil -0,33 persen terhadap deflasi bulanan. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga mengalami deflasi 0,34 persen dengan andil -0,02 persen.

Sementara di Cilacap, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami deflasi sebesar 1,07 persen dengan andil -0,35 persen. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat deflasi 0,56 persen dengan andil -0,04 persen. Namun, kelompok Transportasi masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Purwokerto dan Cilacap.

Baca juga: Kebakaran Lahan Perhutani di Buayan Kebumen Meluas hingga 2 Hektare

Aswin menjelaskan, terjaganya inflasi tidak hanya dipengaruhi perkembangan harga komoditas, tetapi juga merupakan hasil sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Berbagai program pengendalian harga terus dilakukan, salah satunya melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Pada Juli 2026, upaya tersebut diwujudkan melalui Pasar Murah Inflasi Banyumas atau SARAHSIMAS, pasar murah dalam rangkaian TMMD Sengkuyung Tahap III, hingga pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas pangan.

Antisipasi terhadap potensi dampak El Nino juga menjadi perhatian TPID. High Level Meeting (HLM) TPID Kabupaten Banyumas digelar untuk memperkuat langkah menghadapi potensi gangguan produksi dan pasokan pangan akibat kondisi cuaca.

Koordinasi pengendalian inflasi juga dilakukan secara rutin melalui rapat mingguan yang melibatkan pedagang besar, asosiasi, dan kelompok tani. Di sisi lain, komunikasi publik bersama media terus diperkuat agar perkembangan harga dan kebijakan pengendalian inflasi dapat diketahui masyarakat.

Jaringan distribusi pangan melalui toko tani juga dikembangkan untuk menjaga ketersediaan komoditas sekaligus memastikan distribusi pangan berjalan lancar di wilayah Banyumas Raya.

Baca juga: 5 Cafe Kekinian yang Ramai di Purwokerto, Cocok untuk Nongkrong dan Ngopi

Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Strategi tersebut diharapkan mampu mempertahankan stabilitas harga di Purwokerto, Cilacap, dan wilayah Banyumas Raya, terutama di tengah risiko perubahan cuaca dan potensi tekanan terhadap produksi pangan. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

■ ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Kemarau, Harga Beras Naik, Belanja Dapur Makin Berat
VOX

Kemarau, Harga Beras Naik, Belanja Dapur Makin Berat

Redaksi Orbit-News.com | 17 Sep 2026

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: