Banner Utama

Bahaya Perut Buncit Jangan Disepelekan, Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung hingga Diabetes

Kesehatan
By Redaksi Orbit-News.com  —  On May 23, 2026
Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Perut buncit sering kali dianggap hanya masalah penampilan. Padahal, kondisi ini dapat menjadi tanda adanya penumpukan lemak berlebih yang berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan serius. Penumpukan lemak di area perut bahkan dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes, hingga gangguan metabolisme.

Secara medis, perut buncit terjadi akibat akumulasi lemak pada bagian perut yang terbagi menjadi dua jenis, yakni lemak subkutan dan lemak viseral. Lemak subkutan berada tepat di bawah kulit sehingga mudah terlihat dan dapat dicubit. Sementara itu, lemak viseral tersimpan di sekitar organ dalam tubuh dan dinilai lebih berbahaya karena tidak tampak dari luar.

Lemak viseral inilah yang paling sering dikaitkan dengan obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut. Selain sulit dihilangkan, jenis lemak ini dapat memengaruhi fungsi organ dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.

Penyebab utama perut buncit umumnya berasal dari pola hidup yang kurang sehat, terutama konsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan kolesterol yang tidak seimbang dengan aktivitas fisik. Saat asupan kalori lebih besar dibanding energi yang dibakar tubuh, lemak akan menumpuk, termasuk pada bagian perut.

Tidak hanya pola makan, sejumlah faktor lain juga berperan terhadap munculnya perut buncit. Riwayat obesitas dalam keluarga, kurang tidur, stres berkepanjangan, konsumsi alkohol, pertambahan usia, hingga perubahan hormon pada wanita saat menopause dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak di perut.

Baca juga: Bolehkah Penderita Hipertensi Minum Kopi? Ini Batas Aman dan Tips Konsumsinya

Lemak Perut Picu Peradangan dan Ganggu Metabolisme

Penumpukan lemak di area perut ternyata tidak bersifat pasif. Jaringan lemak dapat menghasilkan zat peradangan dan hormon tertentu yang memengaruhi sistem metabolisme tubuh.

Salah satu zat yang dihasilkan adalah sitokin, yakni senyawa yang dapat memicu peradangan. Kadar sitokin yang tinggi dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara penumpukan lemak perut dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, seperti kanker usus besar, kanker kerongkongan, dan kanker pankreas.

Selain itu, lemak berlebih di area perut dapat mengganggu keseimbangan kolesterol dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan kadar kolesterol jahat (LDL) meningkat dan kolesterol baik (HDL) menurun, sehingga risiko penyakit akibat kolesterol tinggi menjadi lebih besar.

Baca juga: Kacang Kapri, Superfood Kaya Serat yang Bantu Cegah Diabetes dan Jaga Kesehatan Jantung

Perut Buncit Tingkatkan Risiko Diabetes dan Gangguan Pernapasan

Bahaya lain dari perut buncit adalah terganggunya sensitivitas insulin. Saat insulin tidak bekerja optimal, kadar gula darah lebih sulit dikendalikan dan risiko diabetes tipe 2 pun meningkat.

Tidak berhenti sampai di situ, penumpukan lemak pada perut juga dapat memengaruhi sistem pernapasan. Kondisi ini membuat seseorang lebih rentan mengalami gangguan napas, kualitas tidur yang menurun, hingga komplikasi kesehatan yang lebih serius.

Dalam jangka panjang, obesitas perut bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dini akibat penyakit kardiovaskular. Karena itu, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengatur pola makan sehat, serta mengelola stres menjadi langkah penting untuk mencegah perut buncit dan mengurangi risiko penyakit berbahaya di kemudian hari. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: